Bahas Politik Di Desa Konohagakure

Kopi hangat dan laptop tua menjadi pelengkap melepas rindu paling hebat. Rindu yang berbeda. Bukan pada manusia, tapi kepada anak kata. Sudah lama saya tidak meluangkan waktu lebih lama untuk menulis. Melirik jam dinding, pukul menunjukkan 17.30 WIB. Jari tangan sedikit meraung hendak melepaskan kata-kata yang sudah lama saya sembunyikan di kepala.

Entah kapan suhu di medsos kembali adem. Netizen yang kebanyakan keselek lengkuas kondangan, kadang emang suka begitu. Segala Opening Ceremony Asian Games sekeren itu aja pake dinyinyirin. Buat apa perayaan Asian games semewah itu, lah dikira lagi bikin pertunjukkan 17-an di RW yang cuma nyewa organ Tunggal, semua udah pada girang. Berapa banyak mata dunia tertuju ke sana, jika dibuat meriah seharusnya bangga. Jika presiden naik motor lompat pake stuntman, wajar. Presiden kita bukan bagian dari atlet Tong Setan di pasar malem. Belum lagi segala tetek bengek disangkut-pautin ke politik.

Belajarlah mengambil kesimpulan yang sesuai, bagus bilang bagus, jelek bilang jelek. Jangan hanya karena kebencian mengaburkan dan menghilangkan kebaikan semuanya. kirain sekte kerajaan ubur-ubur doang yang harus dilurusin, pikiran netizen juga.

Udah paling males ngeliat beranda penuh silang pendapat mendekati pilpres sedikit membuat saya garuk-garuk kepala. Rumit juga rupanya isi pikiran manusia, mereka sanggup mengurusi banyak hal di luar keahlian. Sebagai warga negara yang baik, saya berusaha untuk menangkap dan mencerna pendapat dari banyak isi kepala yang sekiranya dapat membantu menentukan pilihan.

Tentunya pilihan yang menurut saya paling baik, pilihan yang semoga tepat untuk dapat membantu menjadikan Indonesia menjadi lebih baik. Pilihan yang tidak perlu seluruh Indonesia Raya tahu, pilihan yang ingin saya sembunyikan sendiri. Agar apa? Agar tidak perlu berselisih paham. Di beranda, saya hanya ingin sekedar membaca, enggan berkomentar jika ada perdebatan. Setiap orang memiliki pilihan, dan saya menghormati pilihan mereka.

Di rumah pun begitu, jika kekasih saya memiliki pilihan yang berbeda, maka kami berdua menentukan pilihan masing-masing. Tanpa saling menghujat. Namun untungnya pilihan kami lebih sering selalu sama, bukan mengenai apakah kita sehati. Hanya kebetulan saja, pilihan kami berdua, sama.

Hal paling muak adalah jika saya berada di dalam satu bus dengan dua orang yang berawal saling sapa kemudian berujung membahas politik. Kata-kata dengan nada rendah dan ramah tadi berubah semakin meninggi, keduanya lalu terjebak dalam keadaan menjadi seseorang yang paling benar dalam mengungkapkan pendapatnya. Mereka sibuk berdebat dalam perjalanan yang mengunyah waktu lebih lama karena kemacetan ibu kota.

Jika mereka ingin berdebat lebih lama, kenapa tidak pergi ke Konohagakure? Desa tempat kelahiran Naruto Uzumaki atau ke tempat-tempat yang lebih tepat seperti desanya para Shinobi. Di sana bisa bebas berdebat dan mengeluarkan jurus andalan di mana saja tanpa mengganggu orang lain.

Saya memilih untuk mengeluarkan earphone. Menekan beberapa pilihan musik di playlist ponsel. Hanyut dalam lagu-lagu arab dari Najwa Farouk – Nti Sbabi Mazal Mazal, Mauju Galbi, Lemen Nechki serta Soundtrack Mr.Sunshine – My Home.

Menjelang pilpres, biasanya banyak orang dewasa yang kelakuannya seperti anak kecil. Teman lama bisa menjadi musuh hanya karena berbeda pendapat. Bedanya, anak kecil mudah berbaikan, orang dewasa tidak. Itu sebabnya saya sengaja menjauhkan hal demikian.

Semoga janji-janji para politisi tidak hanya tinggi seperti ujung alis ibu-ibu yang fana dan penuh kepalsuan. Terserah kalian mau berantem mengenai politik, entah itu di sosial media milik kalian sendiri. Kalau saya, ogah!

 

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer