Category Archives: FF & Cerpen

Jika Cinta Bilang Iya

Saya melihat kata seperti kamu, buku gambar dan juga crayon warna-warni. Sama-sama butuh waktu untuk dipelajari, dilukis dan diwarnai.

 

Catatlah baik-baik setiap perkataan dan kisah ini, sebelum akhirnya nanti saya menutup mata, meninggalkan ucapan selamat pagi yang sejak dulu telah lama berhenti, saat-saat menakutkan ketika kau tak pernah lagi melihat cahaya matahari pagi atau senja, semua seolah hanya ada di ingatan yang mengapung di kepala.

Saya adalah Marni…

Siang yang gersang di pukul 13.39, di sini tidak ada yang istimewa dan memang sedang tidak ingin apa-apa. Di depan saya, hanya tersedia setablet obat sakit kepala, secangkir kopi dan hidup yang berjalan seperti biasa. Esok hari cuaca mungkin saja berubah, cuaca yang kelakuannya terlalu imut itu membuat tanah lembab sehabis hujan dengan caranya yang begitu tiba-tiba serta pikiran yang dibungkus banyak keinginan.

Sayang, Tuhan bilang sepasang kita seperti peran perpustakaan. Segala yang dipinjam ada rasa tanggung jawab yang harus dikembalikan. Semua memang sudah tertulis di awal. Kita, hanya mengikuti cerita dan selesai.
Mungkin kau dulu pernah ingat? Saya pernah bilang bahwa kita jangan pernah menjadi sepasang mereka. Kehidupan keduanya terlalu menyimpan pertanyaan, lalu berpisah dengan banyak sekali mengajukan pertanyaan.

Namun entah kenapa, kehidupan justru menuntun kita menjadi bagian dari sepasang mereka yang pada akhirnya memilih berpisah untuk belajar tak lagi saling menggenggam dan lebih nyaman dengan tangan masing-masing. Saya pernah berpikir, bahwa saya adalah manusia paling bahagia di dunia. Saya juga pernah berpikir, bahwa harta bukan segalanya, asalkan rasa cinta dan setia tetap ada. Kerapkali saya kembali berpikir, bahwa telah banyak hal baik yang saya harapkan kepadamu, memohon untuk di-iya-kan Tuhan di hari yang terus berjalan ke depan. Namun harapan saya yang terlalu tinggi itu, kini menjatuhkan saya sendiri. Ke tempat yang jauh lebih sakit dari yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Merobek hati dan jantung saya sekaligus.

Jika kepalamu dan kepalaku terbuat dari kerumitan. Kupikir hanya cinta yang berperan menjadikannya sederhana. Penghalau semua — Pengatur segala. Ternyata pemilik semua kerumitan itu adalah Ia, yang dengan sesuka hati hendak menyerahkannya kepada siapa. Mungkin, kita sedang dipilih oleh-Nya. Hingga CINTA sendiri yang rupanya menampar KITA sekeras-kerasnya.

Gambar terkait
Sampai akhirnya saya lagi-lagi berpikir bahwa kau adalah bahaya, terbuat dari bara api yang tiba-tiba menyala. Setiap hari rasanya kepala ini seolah dipeluk matahari, cahaya yang tak mampu membuat kita sembunyi. Sebab tak pernah saya menemukan hal yang lebih sakit, ketika seseorang yang amat saya cintai, justru mencintai orang lain. Seorang perempuan yang sama sekali tak ada satu pun yang sanggup saya irikan padanya. Seorang perempuan yang saya kenal, yang bahkan jarak rumahnya saja masih sanggup saya tapaki dengan berjalan kaki.

Dulu, saya adalah satu-satunya orang yang bersedia melindungimu meski kecerobohan selalu menjuarai adaku. Saya adalah perempuan yang kerapkali menunggumu pulang dengan senyum paling lebar dari milik siapa pun dan menanyakan setiap hari hal bodoh yang sama; Mau dibikinin teh atau susu? Sudah mau makan atau belum? Sayang aku kangen, kapan pulang? Atau pernyataan-pernyataan paling alay tentang; Sayang.. aku mencintaimu, sayang.. sayang.. rumah sudah rapih, sayang.. anak-anak lagi belajar, dan kata sayang-sayang yang lain yang bahkan jika dituliskan, mungkin tak akan pernah cukup.

Dulu, saya pernah tinggal lama diantara kedua alismu, diantara kedua kecup bibirmu, dan diantara hal-hal yang tak pernah sanggup orang lain sentuh. Kini, tak lagi.

Jika kau tanyakan apakah saya marah? Jelas saya marah, itu sebabnya saya mendatangi perempuan yang kau cintai, berkeluh-kesah kepada suaminya, lalu marah dengan cara yang baik, untuk mengingatkannya, juga mengingatkanmu. Saya bisa saja membeberkan kisah percintaan kalian di sosial media tapi saya tak melakukan hal demikian hanya untuk mendapatkan perhatian semu dari banyak orang. Jika kau tanyakan kembali mengapa saya tak melakukannya, sebab kau adalah orang yang selama bertahun-tahun saya lindungi. Ini adalah hadiah paling manis dari saya untuk meringankan langkahmu mencintai seseorang yang ternyata, bukan saya.

Hal kekanak-kanakan yang ada pada diriku apakah sekarang kau merindukannya? Bagaimana waktu saya menyambutmu sepulang kerja dengan menyembunyikan diri dan kita bermain petak umpet di umur kita yang tak lagi dewasa, mengagetkanmu tiba-tiba sepulang kerja adalah caraku mengajakmu bermain-main agar kepenatan yang ada lepas begitu saja ketika kau mendengar tawaku yang mungkin dulu kau anggap sangat biasa. Apakah kau ingat juga bunyi bising mixer ketika aku berusaha menyajikan dirimu berbagai macam sajian kue manis di meja makan? Lalu mungkin sedikit membuatmu kesal dengan rengekanku yang memintamu untuk menggendong tubuhku yang tak lagi seringan dulu, atau teriakanku yang terkadang meminta bantuanmu karena takut beberapa hal, termasuk membersihkan kerangka hewan melata yang sudah kering menempel disela-sela pintu dan kusen kamar kita karena terjebak dan terjepit.

Apakah kau masih ingat?….

Berkali-kali saya mencoba belajar memaafkan dari sakit hati yang memperburuk keadaan, tapi kenyataannya, rasa sakit dikhianati jauh lebih patah, jauh lebih pecah, jauh lebih rapuh.

Kekecewaan yang teramat berat itu sanggup mengajakku ingin berlari sejauh mungkin dari keadaan yang menyirami benih kesedihan tumbuh subur, lalu berhenti mendengar alasan pembenaran dan minta maaf dari kau yang mengecewakanku tak berkesudahan tanpa ada sinyal tanda jera. Kali ini, entah kenapa kaki begitu cepat memberikan sinyal itu untuk melangkah begitu saja meninggalkanmu, diantara pikiran kemarin yang bahkan sama sekali tak pernah saya berpikir dapat meninggalkanmu seorang diri sendirian.

Tak ada lagi kata “Iya” pada maaf-maaf tulus yang telah kuberikan sebelum ini. Semoga setiap perjalanan membuat kita semakin banyak belajar mengenal kehidupan.

“Sebab kehidupan sepahit apa pun tak pernah menghakimi. Jika kau pernah berpikir demikian, maka kau akan terpenjara selamanya di sana. Tuhan yang baik itu, sedang mengajarimu sesuatu. Bahwa kebenaran, akan selalu menemukan jalannya sendiri. Karena kita di mata sang pencipta hanyalah dua manusia yang baru saja menjadi manusia.”

Dulu, aku selalu berpikir bahwa kau adalah satu-satunya milikku. Namun Tuhan sedang menegurku, bahwa segala yang kuakui di dunia sebagai milikku, sebenarnya bukanlah milikku. Jika Tuhan ingin mengambilnya, maka mau tidak mau kita pasti memberikannya. Entah itu kita serahkan sendiri, atau bahkan diambil paksa oleh-Nya. Hingga kita belajar mengerti sebenar-benar cara yang baik untuk memulangkannya. Begitu pun dengan — Engkau.

Seperti pertemuan kita yang tak pernah direncanakan, maka kehilanganmu mungkin akan persis sama kembali seperti itu. Engkau adalah bagian dari kamus paling lengkap, seorang pria yang pernah mencintaiku, memberikan buah hati padaku dengan tawa riang mereka memanggilku “Ibu”  Kau juga memberikan rasa sakit sekaligus. Kau membuat saya belajar dengan baik bagaimana rasanya dicintai, menelan rasa kecewa dan menjadi kuat setelahnya.

Mari kita rayakan kesedihan dengan sejuta puisi, Tuan. Agar kekecewaan terbang mengepakkan sayapnya dan memberitahukan kita cara mengingat sebagaimana mestinya.

Hasil gambar untuk love favim

Jika cinta bilang “Iya”

Maka, kau akan menemukannya. Sebab cinta dan kata punya rasa dan bahasa. Keduanya bisa seasin air laut dan semanis merundingkan hal entah paling hening. Seperti; rindu, kita, dan segala kemungkinan yang sanggup menuturkan dirinya sendiri dalam ruang paling sunyi.

Mungkin, itu sebabnya kata “Tinta” dan “Cinta” memiliki kemiripan kata.

Cinta adalah hal paling liar yang tumbuh di mana pun. Ia tak tersembunyi oleh apa-apa yang terlihat dan tampak. Cinta adalah sesuatu yang mudah terjatuh dan patah seketika. Cinta juga pernah membuat kita saling menuntun bibirku dan bibirmu ke pinggir telaga, dan kepada birahi malam, kita menyerahkan diri, untuk tenggelam dan menikmatinya.

Di sudut jalan, kita sampai pada suatu peristiwa, hadir dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.
Lara dan luka memberikan kita sebuah makna.

Jika daun yang jatuh saja tak pernah membenci angin dan cinta sesederhana hujan bulan Juni Sapardi, maka percayalah bahwa kebahagiaan pun tak pernah bosan menjatuhkan dirinya esok hari.

Biarkan kehidupan yang memberikan kita jarak kepada cinta. Agar kita senantiasa bahagia, tanpa perlu menyalahkan siapa-siapa. Untukmu dan semua hal yang pernah kita namai “Cinta” — Saya pamit.

 

Dari perempuan yang pernah mencintaimu, Marni….

.

.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

Secawan Anggur Ini Milikku

Secawan anggur ini, milikku…

Aku pernah memilih pergi, namun tak memiliki tujuan, lalu kembali.

Aku pernah memilih pergi, membuka langkah lebarku sendiri, berharap sanggup berlari, namun tak kuat lalu berhenti.

Aku pernah memilih pergi…

Apa kalian tahu? Kali ini aku berhasil. Aku pergi dengan mengacaukan pikiranku sendiri. Memikirlan hal-hal yang tak biasa. Mengamati dan merasakan hal-hal yang tak pernah kalian fikirkan sebelumnya.

Entah dari kapan aku mulai bicara sendiri. Bicara kepada laut, kepada batu, kepada jam dinding, kepada pohon mangga yang tumbuh besar di seberang jalan, kepada nisan orang tuaku, kepada bunga yang kemudian layu, kepada waktu, juga bicara dari apa-apa yang orang lain takutkan sebelumnya.

Gambar terkait

Aku yang sekarang, terlalu banyak bicara…

Sebelumnya, aku hanya remaja dengan tingkah laku sebaliknya. Pendiam, pemilik banyak rasa kecewa yang tak pernah aku selesaikan sebelumnya, aku memiliki banyak rasa marah atas hidup yang sulit, pemilik rasa dendam, rasa trauma, serta pemilik semua rasa menyedihkan yang kukumpulkan menjadi satu. Aku memetakan seluruhnya di dalam kepalaku satu-satu.

Semuanya ada di sini, masalah itu kini sekarang berjumlah ratusan, tentunya semua ada di sini, di kepalaku.

Kalian mungkin tak akan pernah mau mendengar, sebab manusia terlalu sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Tak ada yang pernah mau mendengar, atau sekedar berbagi resah dari apa yang aku rasakan.

Apakah cerita hidupku sebahaya itu??? Sampai tak ada seorang pun yang perduli???

Aku sudah meluapkan banyak hal dengan tangis yang terlalu banyak sampai aku lelah. Aku bukan manusia yang pandai menampung masalahku sendiri untuk ditempatkan ke situasi yang lebih layak, situasi yang kalian sebut seharusnya begini dan begitu.

Kepalaku sudah cukup penuh untuk menampung semuanya. Imanku yang sedikit ini menyumbat semua pipanya.

Dan BOOOOOMMMM…..

Semuanya meluap.

Secawan anggur ini, milikku. Ia berada digenggamanku untuk menyelesaikan semuanya, begitu kata bisik di telingaku paling merdu yang terdengar sebelum senja.

Semua peristiwa yang kemarin seolah berputar, perpisahan kedua orang tuaku, hingga wafat keduanya di kampung halaman 2 tahun yang lalu, beban hidup di rantauan, masalah pekerjaan, pendidikan yang tak terselesaikan, ejekan teman, sebuah pengkhianatan dan krisis kepercayaan diri.

Gambar terkait

Aku yang sekarang terlalu banyak bicara…

Orang-orang menyebutnya gila, stress, dan depresi. Ah, orang yang sok tahu itu terlalu sibuk menertawai kehidupanku. Memberikan bermacam julukan dan berfikir semaunya.

Aku yang terlalu banyak bicara ini, sesekali hanya bisa tertawa sepuasnya. Berbahagia atas kesedihan yang sudah sering kupeluk sendiri.

Aku tak memiliki apa pun yang mampu kuserahkan, sebab malam hari bagiku hanya terbuat dari dingin yang menyentuh dadaku sendiri, lalu beku dan menjelma menjadi belati paling tajam di bumi. Pagi hari aku kembali menjadi hal-hal yang orang lain takutkan, melempar segala dari apa-apa yang sanggup kusentuh. Lemparan paling tinggi adalah bagian dari masalah yang hendak aku buang jauh-jauh.

Kepalaku adalah kerumunan kerumitan, seandainya banyak orang lain mengerti, bahwa sedikit mendengarkan adalah hal paling bijak dari sebuah kesederhanaan menyelamatkan nyawa manusia sepertiku. Seandainya banyak orang mengerti bahwa mendengarkan adalah pengubah hal-hal buruk terjadi di kejauhan yang terbang bersama wangi-wangi dunia yang telat tercium. Jika mereka mengerti, mendengarkan adalah kunci dari hal-hal baik terjadi. Maka, aku yakin semua orang akan belajar mendengarkan mulai sekarang.

Di bawah langit yang redup, senja hampir beranjak. Dalam kehidupan yang lebih pahit dari apa pun, aku akan menyelesaikannya dengan ini. Secawan anggur yang kutuang bersama racun serangga, milikku. Yang mungkin, jika kata mendengarkan sanggup aku dapatkan dari seseorang saja, maka secawan anggur ini, bisa saja tak pernah menjadi–Milikku.

 

 

DessyAchieriny@yahoo.com

Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 13 (Sweet Escape)

Kepala gue seolah disiram kopi pahit paling panas, pekat, hitam, kelam dan penuh kepahitan. Itu yang gue rasakan sekarang. Lu gak usah tanya sedihnya kaya apa, ada banyak rasa sedih yang seolah begitu kejam menjalar liar kemana-mana, menjarah ke setiap pelosok perasaan di lubuk hati yang dalamnya kaya bor-an minyak bumi. Gue cukup termenung lama, gak bergerak, sampai akhirnya otak memutuskan telah cukup berani menerima kenyataan sepahit apa pun.

Berat rasanya kaki melangkah ke ruang jenazah, baru melihat ujung jarinya, darah gue mulai berdesir, gue berharap ini mimpi yang setiap pagi dibangunkan kembali oleh Tuhan, gue berharap hidup punya banyak cerita bercanda buat gue, Angga dan juga Mytha sekali lagi.

 


Gemetar, belum apa-apa gue mulai menangis di depan jasad tertutup yang terbujur kaku di sana, bahu gue ditepuk papanya Mytha, dia menunjuk jasad yang di sampingnya. Rupanya gue salah nangisin jasad orang, sambil nangis gue pindah. Rasa panik entah kenapa malah bikin gue jadi goblok. Jasad yang gue tangisin tadi ternyata crewnya Angga juga yang menjadi korban kecelakaan di mobil yang sama.

Di ruang dengan dinding paling dingin, Angga hanya diam di sana, memberikan senyum terakhir di muka paling pucat yang pernah gue lihat, tanpa candaan liar main keplak-keplakan dan bicara hal paling kampret yang bikin gue kesel tapi lucu manja. Langkah yang tegap sudah gak ada lagi, kakinya hampir hancur disebabkan terjepit badan mobil yang ringsek dengan berbagai daging di daerah betis yang ikut terkoyak. Rasa sedih yang gak kuat ditahan, membuat gue lari keluar ruang jenazah dan menangis sejadinya. Saat itu gue gak perduli kejantanan seorang lelaki yang pantang menangis. Ada rasa sedih yang begitu mendalam gue rasain saat itu. Air mata keluar gak mau berhenti, sudah berusaha gue tahan, tapi gak bisa.

Bola mata sudah melalui usaha berkali-kali melihat langit-langit rumah sakit, hanya supaya air mata tidak jatuh membasahi pipi, tapi air mata yang bandel ini terus saja mengalir tanpa bisa gue hentikan.

 

Banyak hal berkecamuk yang gue rasain, salah satunya membayangkan banyak waktu kebersamaan kita yang kemarin, gak akan ada lagi kata-kata nasehat paling onyon yang gue denger namun anehnya selalu memberikan ratusan tenaga baru buat gue menjalani hidup.

Gak akan ada lagi manusia yang paling repot nyuruh gue nikah dan ngusir gue setiap bertandang ke rumahnya kalau kelamaan.

Gak ada lagi manusia yang paling tega minum kopi yang baru gue bikin tanpa permisi, diseruput duluan sampai setengah gelas. Padahal gue aja belum minum *cry

Gak ada lagi manusia yang tukang curhat paling profesional sampai pagi, sedangkan gue cuma dengerin dia sambil ngakak tanpa ngasih solusi yang berarti.

Gak ada lagi manusia yang hobby ngerengek mintain kulit ayam kriuk kaefci milik gue kalau lagi makan bareng di restoran cepat saji.

Gak ada hal-hal paling gila yang bakalan kita lakuin berdua. Tambah sesak rasanya dada inget hal-hal begini. Sedih yang amat dalam membuat pikiran gue jalan-jalan sendiri kepada hal-hal bahagia yang pernah kita lakuin.

Gak akan ada Angga lagi……………………….

 


Angga adalah orang pertama yang kerapkali membela gue mati-matian, paling percaya walau pun gue sering ngibul sekali pun, penggemar paling setia, tempat pertama dan terakhir bertanya, berbagi cerita dan berkeluh-kesah tanpa takut aib lu kebongkar. Angga menjadi sahabat yang mampu membuat gue berfikir bahwa sekian banyak waktu yang dinamakan pertemuan dan persahabatan merupakan hadiah kedewasaan dari Tuhan.

Langit tampak begitu indah, biru yang serasi warna laut dan cahaya matahari dengan warna jingganya yang menantang berani dan gagah. Di Taman pemakaman, tanah merah itu masih basah, wanita bertubuh mungil tengah berdiri dengan gaun hitam berwajah pucat dan sendu. Rambutnya yang hitam ikal dikuncir sederhana, sesekali ia merapihkan kembali selendang yang jatuh licin ke bahunya kemudian duduk di samping nisan dan berkata dengan suara pelan juga samar.

“Sayang, aku gak ingin menanyakan kenapa kamu pergi secepat ini? Tapi hati kecil aku selalu mengulang pertanyaan itu. Aku tahu, Tuhan punya banyak rasa sayang untuk orang baik seperti kamu. Kita punya banyak harapan dengan percakapan paling panjang setiap malam. Ketika nanti Angga kecil lahir, aku berharap ia tumbuh besar dengan membawa dan memiliki senyumanmu setiap harinya. Tuhan punya cara lain bagaimana mengajariku cara menyayangi, kamu gak perlu khawatir, aku akan membesarkannya sama seperti caraku mencintaimu.” Mytha mengusap nisan Angga berulang kali.

Hanya mendengar nada tangis serak yang tertahan dari suara lirih Mytha, gak terasa air mata gue ikutan keluar, ini malah bonus sama ingusannya sekalian saking sedihnya. *Sroooot…


Mytha mengeluarkan selembar kertas merah jambu dari tasnya yang diletakkan di nisan Angga. Di kertas itu ada beberapa bait tulisan. Gue penasaran, bergegas mendekat dan membaca isinya. Pelan-pelan.

 

Cinta… Perjalanan rohmu telah melewati semua kembara. 

Kueja namamu jengkal demi jengkal jika hidup masih menginginkanku berkelana lebih lama. 

Dunia yang pernah kau sebut singgah, selalu ada yang bernama kita.

Jiwaku lebur, ada tarian hujan yang kerapkali membuat kau hadir di setiap tulisan, juga harapan serta doa-doa ke depan. Kau seperti rindu dalam tetesan air itu, sedangkan nasib mempersembahkan dingin yang rebah pada tubuh malam. Kelam, pekat dan sakit.

Di halaman terakhir hidupmu, Tuhan memberikanku kabar bunga paling layu. Menutup pintu-pintu suaramu yang dulu memburu di telingaku. 

Tunggu aku… Sebab yang hidup hanya sedang mencari bagaimana caranya menyusulmu pulang. 

 

 

Dari aku, wanita yang mencintaimu.

 

Pada saat seperti ini, detik jarum jam seolah ikutan berhenti. Suara-suara seperti tak lagi terdengar. Masing-masing dari kita diselimuti keheningan dan hembusan angin siang yang panas memantul di ujung batu nisan di sekelilingnya, juga menikmati sedikit redupnya cahaya di bawah pohon Kamboja. Tatapan mata Mytha yang sedih mengisyaratkan bagaimana ia berjuang melawan kesepian dan kerasnya kehidupan. Desahnya membuat gue memberikan sebuah kalimat penguat yang sempat terlintas dari kata-kata Ambroce Bie “Sabar Myth, harus kuat. Sebab tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari. Yang ada hanya hal-hal lawas yang belum pernah kita ketahui.”

Dia mengangguk lemah, menatap gue tajam dengan pelukan paling erat, dada bidang ini akan selalu ada tempat paling luas untuk menopang isak tangisnya paling lama. Sampai kemudian kaki-kakinya lemas dan gue bantu papah Mytha ke mobil.

Kerikil di halaman rumah, gemericik air kolam dan tanaman yang sama. Tak ada yang berubah. Kecuali waktu dan kita yang semakin tumbuh dewasa bertahun-tahun ke depan. Rambut yang kian memutih dan tubuh yang lemah, kali ini gue melihat masa lalu dengan mata yang kian kabur, beberapa kali jari mengulang berhitung melewati fragmen hidup ke belakang.


Setahun setelah kematian Angga, gue sempat melamar Mytha. Gue ajak dia ke tempat yang menurut gue paling romantis. Bukan di atas gedung untuk melihat matahari terbenam kaya drama Korea, gue gak seromantis itu, bukan juga dengan maksa ngajak seorang wanita ke atas bukit yang kenyataannya bakalan ngos-ngosan kecapean dan bikin ketiak basah hanya untuk melakukan hal bodoh nungguin meteor jatuh kaya Sanchai dan Tao Ming Tse, hanya untuk dinyamukin di tengah tingginya ilalang. Yang terlintas hanya ingin mengajak dia ke rumah yang gue beli dan gue renovasi pake duit hasil kerja keras gue sendiri, lengkap sama perabotannya sekalian tapi belum sempat gue tempatin. Gue menyebutnya “Rumah Masa Depan”. Kita duduk di teras depan di atas kursi rotan dengan bunyi sedikit berisik ketika diduduki, gue mengeluarkan sebuah kotak hitam beludru yang tersimpan manis di dalam saku kanan sejak tadi. Masih jelas diingatan bahwa malam itu, gue menyerahkan kotak yang berisi sepasang kunci dengan gelagat paling kikuk sambil berusaha melamarnya. Jika jawabannya lamaran gue diterima, maka ia bisa ambil kuncinya satu. Jika ia menolak, maka gue saranin untuk menutup kotaknya.

Dia cuma tertawa pelan dan menutup mulutnya, ngegetok kepala gue keras-keras sampai berasa kaya gegar otak ringan. Lalu ngajak gue duduk, ngacak-ngacak rambut dan cerita panjang lebar. Sesekali dia bertanya tentang sudah berapa lama kita temenan, sedang apa Angga di surga, di Surga ada martabak apa nggak dan semua pertanyaan yang isinya kebanyakan konyol semua. Sampai terakhir ia bilang, “Dhika… Rasa sayang itu ada, tumbuh, untuk diasah agar tidak mudah terbalik hanya untuk tumpah kemudian kembali menampung hal-hal belum pasti yang lain. Bukannya gue ingin menutup hati sendiri dan gak akan move on dalam kisah cinta dalam hidup. Ya, tentunya setiap orang mungkin memiliki pemahaman yang gak akan sama. Tapi namanya hidup kita pasti menemukan waktu yang terus berjalan, suatu saat juga akan menemui janji-janji baru yang bergelayut di ujung harapan yang kadarnya berkurang dari hari kemarin karena kecewa atau lain hal. Untuk sekarang, menjalin hubungan baru rasanya masih berat. Bukan karena gak sayang, setiap peristiwa akan membuat kita menemukan jawaban yang lebih dewasa di luar harapan yang terkadang kita ingin. Kuncinya gak bisa diambil sekarang atau dengan mudah aku tutup. Lo akan tetap jadi manusia paling spesial yang hadir memberikan banyak kebahagiaan. Tapi jangan khawatir, ketika ke depan cerita Tuhan kita ditakdirkan untuk tidak sama-sama dalam arti membangun rumah tangga dan menikah, orang yang dihadapan lo sekarang ini yang bakalan sering bertamu.”

Gue dengernya malah sontan langsung ngakak.

“Kenapa???? Kesurupan???” Tanya Mytha bingung

“Gaya bahasanya udah kaya netizen sosmed anak puisi di Tumblr lo Myth. Panjang dan belibet. Bilang aja masih susah ngelupain Angga, bilang aja lamaran gue ditolak. Pake segala nyuruh gue mengunyah kata-kata. Udah tahu otak gue cuma sedikit.” Giliran gue gantian ngegetok dia pake kunci.

“Terus aja getok guenya pake kunci inggris sekalian….” Ejek Mytha

“Gak ah, besok-besok gue getok kepala lo pake kunci stir mobil.” Ucap gue santai

Suasana kaku tadi mulai mencair dan pada akhirnya kita malah ketawa barengan kaya orang gila. Abis itu pulang, membawa perasaan paling sesak karena cinta ditolak. Walau pun begitu, gue malah tambah kagum dengan wanita satu itu. Jaman sekarang susah ngedapetin seseorang yang memiliki prinsip dan komitmen yang kuat. Biasanya jaman sekarang banyak janda yang malah kepengen banget dikawinin, ini malah nolak lamaran dari cowok sekece gue, padahal dalam mimpi gue udah minta ijin Angga buat ngelamar Mytha dan dia senyum, lalu gue diterima. Lah, kenyataannya mimpi cuma bunga tidur yang bikin gue menghayal terus-terusan. Gue kadang ngerasa malu sendiri, kadang ngerasa ganteng sendiri, kadang ngerasa ganteng banget dan ganteng aja, tapi keseringan ngerasa pengen makan martabak rasa coklat wijen. *Laaah…

Hampir semua cewek di kantor waktu muda pada tebar pesona pengen gue nikahin. Tapi malam itu, hati gue malah kebalikannya, hancur dan menghabiskan waktu cuma ngobrol di teras depan rumah gue sendiri yang di design putih minimalis, kita pulang tanpa membuka pintunya. Padahal, di halaman belakang teras menghadap kolam renang dekat air mancur patung yunani bocah pipis di kolam, gue udah siapin puluhan lilin, mawar, balon warna warni dan confeti. Gerakan tubuh yang resah, percakapan malam yang panjang, rasa rindu, dan nafas yang tertahan, kita berdua pulang, tanpa Mytha tahu semua persiapan yang gue buat seharian hanya menjadikannya sia-sia. Ditambah besok paginya, semua berantakan keguyur hujan. Mau sok romantis, tapi gagal.

Sekarang, kita memiliki kehidupan dengan jalan ceritanya masing-masing. Ketika muda memikirkan hendak menikahi siapa, pada akhirnya justru takdir tertulis menikahi siapa. Rupanya waktu tidak mampu membuat kita sama-sama, walau kita pernah jatuh cinta di waktu yang sama.

Untuk mengobati kerinduan sahabat satu itu, di rumah gue selalu ada Mytha. Lebih tepatnya Mytha ada di layar kaca tabung televisi. Semenjak sepeninggal Angga dan setelah melahirkan dia bergelut di dunia akting, jadi artis tenar pemenang beberapa kali ajang bergengsi, wajahnya sering muncul sebagai bintang iklan, presenter dan film layar lebar, link untuk terjun ke sana ia dapat dengan mudah dari nama besar Angga dan seni teater yang sejak dulu ia geluti. Mana nyangka cewek yang hidungnya sering gue sentilin, sekarang malah dipuja banyak orang. Bertahun-tahun Mytha masih memegang teguh untuk berkomitmen sendiri membesarkan anak laki-lakinya, wanita tangguh yang kuat dan pemilik rasa cinta yang begitu hebat.

Sedangkan gue, finally nikah sama anaknya pak Haji. Kisahnya persis mirip kaya tragedi sinetron para pencari Tuhan. Ketemu di masjid pas sholat Jumat. Bukan cowok!!! Jangan mikir yang aneh-aneh kalau gue sukanya jeruk makan jeruk, dia nganterin peci bapaknya yang ketinggalan.

Tatapan mata adalah hal paling sadis yang gak ada satu ilmuwan pun bisa berfikir dari mana hati bisa tergerak dan merasakan hal yang beda dari dalam diri lo sendiri. Rasa yang hadir tiba-tiba itu belum pantes gue sebut cinta, lebih layak disebut suka. Sebab di hari itu kenal aja belum, baru masuk tahap kagum melihat cantiknya makhluk Tuhan yang lewat barusan, sedangkan cinta maknanya harus lebih dalam dari itu, menyukai semua yang ada padanya baik hal yang lo suka dan tidak. Bukan berarti juga lo harus menerima segala keburukannya. Bukan tidak perduli, lo salah, justru berawal dari niat baik menjadikannya lebih baik dan belajar sama-sama. Kita pasti akan menemukan seseorang yang satu atau dua hal memiliki kesamaan tapi tidak seluruhnya. Cinta itu adalah menyempurnakan hal-hal yang tak dapat kita temukan di dalam diri kita tapi ada padanya. Pilihan dewasa di umur gue yang matang dan hampir busuk karena kematengan ini ada di mata Niana, anaknya pak haji.

Nikahin anaknya pak Haji memang berat, masa pendekatan ke rumahnya belum apa-apa aja gue udah di-test ngaji. Kenapa gak dirubah test makan kue cucur ya? Supaya bisa sedikit mempermudah. Seinget gue, hari pertama gue bertandang ke rumahnya dulu sengaja bawa martabak buat bapaknya, sebab pepatah mengatakan bahwa kita sebagai manusia yang baik harus memiliki HARKAT dan MARTABAK yang baik. Makanya gue bawain rasa coklat susu wijen dan keju. Komplit.

-____- !!??

Sekian bulan berjuang menaklukkan bapaknya, akhirnya gue lulus juga, lalu mengantongi restu dan menikah. Namanya jodoh entah kenapa prosesnya cepet banget cuma butuh 4 bulan dari masa pendekatan ke pernikahan.

Setelah sekian lama lagi waktu berlalu, Tuhan punya cerita lain lagi. Gue sama Mytha duduk di pelaminan, seperti hal yang dulu gue impi-impikan. Walau pun bukan sebagai suami istri, melainkan besanan. Melangsungkan pernikahan anak laki-lakinya Mytha dari Angga dan anak perempuan gue dari istri gue, bukan dari rahim istri tetangga. Internet memang bikin dunia jadi sempit, gue aja gak ngerti kapan anak-anak kita kenalan lebih jauh dan tumbuh saling jatuh cinta. Mereka temanan sejak kecil karena Mytha dan gue masih berhubungan baik dan sering kumpul bareng di rumah. Mytha juga jadi sahabat istri gue, Nania. Awal denger anak kita pacaran aja, gue sama Mytha sampe shock, gue tanya awal deketnya gimana, katanya berawal dari follow-an di Instagram. Ebuseet…. Ta’aruf masa kini.

Setiap cerita selalu memuntahkan peristiwa yang pernah kita lalui dan kita hanya berjalan diantara sebab. Tidak ada hari yang terlalu pagi untuk merayakan sunyi dan lantunan ayat-ayat suci. Bunyi langkah anak-anak mandi pagi dan teriakan nyaring dari mangkok dan piring pecah kena lemparan bola, wangi nasi goreng di meja makan, beberapa gelas susu, remah roti yang jatuh dan selai kacang berisikan harapan dan doa-doa yang dirapalkan orang tua.

Rupanya pernikahan bukan lagi tentang kita, bukan juga tentang sepasang manusia, atau bahkan tentang menaklukkan keegoisan, tapi lebih dari itu. Ini, tentang janji kepada Tuhan, tentang tanggung jawab, tentang mengasah rasa yang membuat kita kian dewasa dengan baik.

Hari ini, adalah hari libur bagi sebagian orang dan hari males mandi pagi sedunia, hari istirahat dari suara klakson dan raungan mesin mobil di sepanjang jalan yang padat atau hari paling baik untuk berkumpul bersama keluarga. Tapi buat gue, hari ini adalah hari yang membuat kalian akan mengingat bahwa seorang Dhika pernah ada.

Di teras depan terdengar suara dentum bola basket yang memantul dan percakapan seorang anak cowok berumur 5 tahun dengan rambut bergelombang bersama teman sepermainannya. Gue bisa melihatnya dengan jelas disamping tempat tidur kamar karena jendela yang sengaja dibuka lebar agar matahari dan udara dapat masuk dan berganti dengan leluasa.

Sekarang gue adalah seorang kakek dari cucu yang bernama “Tantra”. Sebrengsek apa pun kalian di masa muda, di masa tua adalah tempat lo meluangkan nasehat paling panjang kepada anak cucu dan hiburan paling besar yaitu mendengarkan suara anak kecil bercerita sesuai dengan dunia mereka.

“Ndra, kamu bisa ngitung gak?” Celoteh cucu gue melayangkan sebuah pertanyaan, ia memakai baju biru tua dengan garis hijau muda bergambar kuda di saku kanannya. Rambutnya bergelombang dan berkulit putih, telinganya memang sedikit lebar, namun ia tetap terlahir berwajah tampan sejak kecil. Mirip eyangnya.

“Bisa… Gampang.” Lalu temannya mulai berhitung dari 1 sampai 15 dengan suara nyaring, benar dan keras. Indra adalah temennya Tantra berambut keriting brokoli, bermata sipit, berkulit coklat senada dengan coklat merk ayam jago itu gak mau kalah.

Namun dengan sigap, cucu gue menyanggah. Suaranya yang lebih nyaring terdengar sampai ke sini. Mereka bermain tepat di dekat jendela kamar.

“Dih, salah. Abis 10 itu Jack, Queen, sama King.” Ucap cucu gue sambil melengos pergi dengan gaya paling sotoy, meninggalkan temennya yang sekarang terbengong-bengong.

-_____-!!???

Gue ngakak gak berhenti, rasa sakit yang gue rasakan seolah berhenti dan mengucap astaghfirullah dalam hati, hal lucu seperti ini mengingatkan gue ke masa lalu, dalam hati gue ikutan berbisik “Angga, lo lihat kan di sana? kita udah punya cucu sekarang. Iya, cucu kita….kelakuannya persis kaya elo waktu muda. Ngeselinnya sama. Sumpah, kali ini gue kangen, ngga. Umur gue di dunia udah tua, mungkin sebentar lagi gue bakal nyusulin lo….” Ucap gue sambil memandang sebuah potret Angga, gue dan juga Mytha sewaktu muda dalam bingkai kecil bercorak menara Eiffel di dekat lemari kaca samping gucci-gucci koleksi, Niana.

Kecupan manis paling hangat mendarat di pipi gue dari bibir seorang wanita yang mengajarkan sebuah kehangatan dan rasa cinta setiap harinya. “Minum obatnya, sayang” ucap Niana, keriput tangan wanita yang bersedia menghabiskan waktu hidupnya sama gue ini pun gue pegang erat-erat. Tak ada satu haripun yang terlewat dari bibirnya memanggil dengan sebutan kata sayang sebagai pengganti nama gue. Niana, membangunkan pelan dan mengangkat tubuh yang lemah ini kepelukannya. Sakit kanker getah bening yang gue derita hampir setahun ini, membuat tubuh tak lagi gagah seperti dulu.

 


Dalam zikir yang selalu gue ucap dalam hati, ada sekelebat cahaya putih besar bersayap yang membawa cahaya yang lebih terang dari sinar matahari. Sampai kemudian semuanya gelap, semua rasa sakit yang gue rasain hampir setahun ini juga mendadak hilang. Berganti dengan rasa sakit yang baru yang lebih sakit, yaitu proses dicabutnya nyawa.

Sayup-sayup terdengar tangisan Niana memanggil nama gue berulang kali… Ruh gue terus saja pergi, gue seperti masuk ke dalam ruangan putih yang luas tanpa ujung. Hanya ada orang-orang yang lebih dulu pergi di sana, seperti Angga, nenek gue, kakek gue dan masih banyak lagi.

Seganteng apa pun diri lo, sehebat apa pun diri lo, sekaya apa pun diri lo. Kita pada akhirnya hanyalah ruh, semua hal di dunia terputus, sahabat, temen nakal, cinta, harta, motor gede gue yang gue kasih nama “Ujang” dan orang-orang tersayang.

Yang hidup pasti pulang, kepadaNya. Jangan terlalu sedih karena merasa kehilangan, sayang. Karena kita suatu saat nanti juga sama-sama akan — Hilang. Namun persahabatan dan cinta, mampu menjadikan kalian sebenar-benarnya seseorang yang dewasa dengan caranya, cara yang baik. Dan diantara semua hidup yang sudah dilalui, Tuhan mengabulkan permintaan gue yang terakhir. Menghembuskan nafas dan menutup buku kehidupan di kasur yang hangat dalam dekapan wanita terbaik yang memiliki cinta yang juga, hangat.

 

The end.

dessyachieriny@yahoo.com

Sekampet-Kampretnya Persahabatan Bagian 12 (Today I’m Sad)

2 tahun berlalu….

Mytha dan Angga sudah menikah, cinta pertama dalam masa lalu gue lagi hamil 6 bulan, mereka bahagia, gue sendirian, akan ada hari di mana lo akan merasa kesepian jika sahabat terdekat sudah menikah semua. Isi kepala lo akan terisi kalimat pertanyaan latah yang fenomenal.

Kapan gue juga nikah?

Kapan gue bahagia kaya mereka?

Well, jika pertanyaan demikian gue ulang-ulang kembali. Itu pertanda alarm iman berbunyi dan gue lupa bersyukur.

Sebuah pertanyaan paling manja sebagai manusia yang kepengen minta ditolong, kepengen minta dihibur, kepengen mendapatkan jawaban secepatnya dari harapan yang belum di-iya-kan Tuhan. Padahal kehendak Tuhan di hari ke depan jauh lebih baik untuk kita, namun kerapkali kita lupa menyadari hal itu, karena terlampau asik memilih mengeluh.

Sebagai seorang cowok gue terkesan lebih baperan, seringkali terbawa perasaan, suka kasihan sama orang, gak tegaan, dengan sifat gue yang demikian gue sama sekali gak merasa lemah, gue justru kembali bersyukur. Sebab gue meyakini bahwa kelebihan manusia dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain, salah satunya adalah diberikannya “Rasa” terutama berbagai macam rasa takut, rasa kasih sayang, rasa malu, rasa peduli dll.

Segala macam cobaan, ujian, kenikmatan yang diberikan Allah di dunia adalah untuk mengajari kita bagaimana mengasah “Pandainya rasa” bukan justru sebaliknya yaitu “Merasa pandai”. Sebab iman seseorang akan terlihat bagaimana ia menyingkapi rasa kasih, rasa sayang, rasa takut terhadap Tuhan, rasa khawatir mengenai singkatnya hidup di dunia, rasa was-was apakah ibadah kita sudah cukup, serta mengasah rasa peduli yang mereka punya terhadap lingkungan dan sekitarnya.

Bicara memang gampang, prakteknya yang susah, Boy…

Sesekali gue mulai berulah menjadi sahabat paling manja yang membuat mereka ribet versi majalah Hidayah, karena tiap gue libur kerja dan bingung mau ke mana, gue mulai leyeh-leyeh di rumah mereka; ngacak-ngacak isi kulkas, nonton tv  lalu tiduran. Gantian si Angga ngerasain gimana ribetnya jadi gue dulu yang digangguin terus sepanjang hidup semasa muda.

“Pulang sanah! Gimana mau dapat jodoh kalau hidup lo di isi dengan nonton film di rumah gue setiap libur kerja, ribet lama-lama gue liatnya.” Ucap Angga sambil nyeruput kopi di gelas yang udah gue minum juga, barusan. Minum kopi segelas berdua, romantis. Preet…

Sampai di sini, kalian pasti mikir gimana nasib cinta gue sama Malika? Setelah waktu lewat 2 tahun lamanya.

…krik…krik…

…krik…krik…

Cinta gue kandas….

Ciee, kalian pasti pada ngarep ini cerita bakalan kaya drama korea yang bahagia, romantis selamanya. Udel kuda!!! It’s Life, gak selamanya cerita hidup selalu ngikutin apa yang kita inginkan dan rencanakan. GAK SELAMANYA.

Cinta gue kandas sebelum berkembang… Kita memang sempet pacaran, cuma hitungan bulan. Lebih tepatnya 8 bulan.

Setahun lalu, Malika melanjutkan study mengenai barista di Aussie sekalian nerusin cafe milik kakaknya yang duluan tinggal di sana dan buka kedai kopi, namun untuk komunikasi kita masih berhubungan sampai sekarang, nanya kabar, cerita mengenai perjalanan hidup, macem-macem.

Cinta gue dan Malika adalah cinta yang dewasa, tak bersama bukan berarti kita harus jadi musuh bebuyutan di muka bumi, melainkan saling support kehidupan masing-masing. Seminggu yang lalu gue masih video call dengan perempuan yang pernah singgah di hati gue itu untuk ngenalin pacar barunya ke gue, bokinnya sekarang orang bule yang punya kumis tipis persis kaya anak lele, alisnya kaya stang BMX, bibirnya tebel kaya hak sepatu wedges wanita sosialita, keliatan rada sangar karena tattoan di lengan kanan tapi tetep aja perawakannya rada culun, mungkin karena badannya terlalu kurus, menang putih doank tapi perawakan tubuhnya setipis rumput laut Tae kai Noi yang sering banget jadi cemilan gue hari-hari.

Lagi-lagi pemikiran gue ini didasari dengan rasa iri, -______- kemudian mulai cari pembelaan dari pepatah lama, sebab kesempurnaan hanya milik Allah. Gue ngelus dada lagi, ketamakan dunia memang suka merajai hidup, hati, dan pemikiran kita sebagai manusia yang kerapkali merasa paling benar dan paling sok sempurna. Susah banget memang setan dalam diri untuk diusir, dengan mengasah rasa.. gue yakin ini adalah cara paling benar mengusir si setan pelan-pelan.

Di jaman sekarang, cewek lebih seneng cari cowok yang bertatto dibandingkan yang cowok polos kaya gue, padahal cari cowok yang gak pernah ketinggalan sholat Jumat dan sholat lima waktu tanpa posting untuk dijadiin status kan udah jarang.

-____-!!??

Awalnya sebelum berangkat ke Aussie, Malika masih berharap untuk hubungan jarak jauh dan menyuruh gue menunggu, kita pisah karena gue yang mutusin.

Saat itu gue hanya berfikir, gue sama sekali gak ingin berjanji kepada seseorang yang menggantungkan harapannya di bahu pria yang ia sendiri pun bahkan belum tahu apakah kelak mampu menepati janjinya atau nggak.

Namun, ketika waktu telah sampai pada detik ini, semua keputusan gue kemarin adalah langkah paling tepat dalam kehidupan percintaan gue yang sekarang.

Gue yang kemarin hanya bagian dari kumpulan orang yang salah mengenal arti cinta yang sesungguhnya. Cinta gue terlalu murah dan mudah untuk dikatakan, terlampau terbawa perasaan seperti lazimnya trend orang-orang lakukan sekarang. Melupakan arti penting bagaimana jatuh cinta secara elegan menurut kaidah agama. Seolah jika sudah menyatakan cinta saat usia remaja telah menjadi pria utuh dewasa yang mampu melindungi dan menjaga wanita yang dicintainya dengan dalih paling ruwet untuk mencoba saling mengenal.
Sehingga gue pun menjadi jiwa-jiwa yang dipaksa dewasa belum pada waktunya….

Buat kalian yang merasa masih muda, dengerin nasehat gue: “Jangan pernah ikut-ikutan menjadi dewasa terlalu cepat, karena ketika saat gue dewasa sekarang, sungguh gue justru merindukan masa kanak-kanak kembali yang belum pernah mengenal cinta dan segala macam kerumitannya.” Nasehat gak selamanya harus terlontar dari para tetua, dari orang yang pernah menjadi brengsek dan mencoba dekat kepada Tuhannya juga termasuk nasehat.

Cinta yang baik akan melalui proses perjanjian yang Agung, berjanji atas nama Tuhan, disaksikan malaikat.

Sedangkan gue yang kemarin melihat cinta hanya sekedar nafsu dan memperbanyak dusta, yang selama hidup penuh dengan mengobral janji. Berjanji untuk terus mencintai, berjanji untuk saling menjaga, berjanji untuk selalu sama-sama, dengan wanita yang gue sempat yakin akan mencintainya seumur hidup gue. Nyatanya, putus satu…tumbuh seribu, gue justru mudah berganti wanita lain kembali, dengan dalih kata MOVE ON dan termaktub dalam bab yang dicintai setan “Pacaran dulu untuk saling mengenal”.

Padahal gue sendiri sadar, waktu berulangkali memperingatkan bahwa setelahnya kita hanya akan terperangkap dalam ruang bagi perasaan kita masing-masing untuk menjadi sosok seseorang yang kemudian seolah tak pernah saling kenal. Mau lu berusaha keras untuk mencoba gak kenal kaya gimana juga, tetep aja hati lo akan bilang, bahwa kita pernah saling kenal.

Entah di mana Agungnya cinta menurut gue saat itu… Sama sekali gak ada.

Muliakanlah cinta dengan mampu menjadi sosok yang dewasa, berani, bertanggung jawab. Sebab definisi cinta atas seseorang yang sama sekali belum halal bagi kita tidak mencangkup dalam tiga kriteria di atas.

Di umur yang dewasa sekarang, gue hanya menunggu cinta baik mendekat, merekah sendiri di waktu yang sudah dijanjikan Tuhan. Sebab gue enggan meng-Agungkan hal-hal semu yang orang-orang menyebutnya menjadi sebuah “Kesenangan berumur pendek” tanpa ikatan perjanjian pernikahan.

Pernikahan adalah ikatan yang Agung. Sangat Agung.

Hidup gue cukup mencari sesuatu yang diridhoi, bahwa cinta yang baik menurut Tuhan, tidak akan pernah menyengsarakan pemiliknya.

Setiap malam sebagian manusia termasuk gue, akan menjadi santapan bagi kabut-kabut kantuk yang tiba sebelum jam 12 malam, lalu kita bermimpi banyak hal yang menjelma menjadi khayalan ketika kita sudah bisa membuka mata. Di pagi hari seperti biasa, gue akan menemui kopi pahit pertama kali, jalanan yang sama, kantor yang sama, dunia yang sama di waktu yang berbeda dan kejadian yang bisa saja sama dan bisa juga tidak.

Kita saat ini hanya bagian manusia yang terlalu sombong, yang melupakan kisah penciptaan dan melupakan kisah jatuhnya Adam dan Hawa. Kita hanya menjadi manusia yang sibuk mencari, lupa berbenah diri, lupa belajar bagaimana berinteraksi, mengupas hal yang paling rahasia antara makhluk langit dan kita penghuni bumi.

Setelah diusir Angga, gue balik ke rumah. Itu juga ogah-ogahan. Angga siang ini ada project film di Bandung makanya gue balik, kalau dia gak kemana-mana walaupun diusir seribu kali gue tetep bandel gegoleran di sana seharian.

Seandainya gue bisa cuti semudah gue buka resleting celana kalau mau pipis, gue udah ikut Angga. Gue suka kota dengan udara yang dingin, walau pun ketika di sana gue biasanya mandi dengan sistem dicicil. Hari ini ngelap muka, besok ngelap ketek, besoknya lagi ngelap selangkangan. Air daerah Bandung Selatan tiap pipis bikin semua bulu gue jadi beku. Kalau gue keramas pake sampo yang banyak, bilasnya gak pake air tapi pake susu murni, gue yakin air bilasan sampo kemungkinan langsung jadi ice cream.

Di kamar, gue dengerin musik instrumental Turki. Hari ini perasaan gue merasa gak enak, kaya ada yang ngeganjel tapi gue bingung kenapa dan ada apaan. Gue sempet pernah ngerasain hal kaya gini sebelumnya, ternyata gue dapet kabar buruk, kucingnya mama lahiran, tapi di lemari baju gue. Parah!!!! Sebel!!!!

-_____-!!???

Semoga kali ini firasat dari perasaan resah gue gak sampe seburuk itu….

Hampir 3 jam mata gak juga bisa merem. Gue mencoba pake mantra sulapnya pak Tarno “Simsalabim ayo merem prok prok prok…” Tapi mata gue malah lebih melek dari sebelumnya. Fiuuh. Mantra sulap abal-abal yang gak ngebantu sama sekali.

Baru mau merem, pintu kamar diketuk keras dan cepat. Gue kaget, nyokap pas masuk juga ikutan kaget. Kita sama-sama kaget. Halah. Nyokap bilang Mytha nelfon gue berkali-kali tapi gak diangkat, ponsel memang sengaja gue silent dari pagi. Di sini gue masih biasa aja nanggepinnya, sampai nyokap melanjutkan lagi bicaranya bahwa Mytha butuh gue di sana karena Angga kecelakaan di tol Cipularang, kondisi mobil terbalik dan sebagian kru banyak yang terluka parah.

Gue bengong, lemes, gak bisa ngomong apa-apa karena shock, gue meraih ponsel di meja komputer, di sana tertera 12 misscall dari Mytha dan puluhan wa mengenai kronologi kecelakaan dan pemberitahuan lokasi Angga di RS.

“Ya Allah…” Hati, jantung, semuanya rasanya terbakar, bercampur rasa gemetar satu badan, bonus rasa bingung dan panik. Gerimis hampir turun di pelupuk mata, namun gue tahan.

“Ayolah, boy… Jangan nangis. Kuat… Kuat, boy. Angga gak akan kenapa-kenapa.” Gue mulai menenangkan diri gue sendiri.

“Please jaga Angga ya Allah, Gak ada Angga hidup ini seperti layang-layang tanpa angin, seperti sepasang sepatu yang ditinggalkan pemiliknya, juga seperti spongebob tanpa patrick.” Bathin gue yang lemah kembali berdoa.

Kaki dan tubuh gue seolah memiliki remote kontrol otomatis untuk bergegas ganti baju dan melaju ke lokasi yang ditulis Mytha di wa. Gue gak sanggup nelpon Mytha langsung, karena gue gak ingin mendengar isak tangisnya diponsel yang hanya menambah rasa khawatir gue mengenai Angga berlebihan.

Apa yang lu rasain jika sahabat lu dari kecil, yang sering tidur bareng, becanda bareng, brengsek bareng, sampe tobat bareng, kabarnya kecelakaan?

Ingatan masa lalu langsung berputar, Angga pernah nemenin gue dulu waktu masih sekolah buat ngapel malam Minggu ke rumah cewek yang gue taksir, saat itu disambut bapaknya, yang tadinya kita gak pernah sholat tiap denger adzan langsung sholat pamit pergi ke masjid biar dibilang anak Sholeh, persis kaya pemeran utama manusia karbitan di sinetron Para Pencari Tuhan film besutan Dedi Mizwar.

Dan sekarang, sahabat karib gue itu terbaring lemah di Rumah Sakit dan gue sama sekali belum tahu kabar lanjutnya.

Sedih… Banget.

Sampai di depan RS gue langsung telpon Mytha, gue gak ngebayangin di usia kehamilan 6 bulan dia harus denger berita kaya begini, dering ponsel berhenti dan terdengar suara Hallo lemah dengan isak tangis.

“Gue udah di depan RS, Myth… Menuju ke sana…” Ucap gue dengan nada sok tegar yang dibuat-buat karena perasaan gue sama paniknya dengan Mytha, mungkin lebih.

Sampai di sana, Mytha lagi meringkuk duduk di bawah bersender tembok rumah sakit, nangis sejadi-jadinya yang dia bisa. Gue sama sekali gak memperhatikan lalu-lalang orang-orang, gue hanya sibuk bertanya mengenai Angga gimana kabarnya, di mana sekarang, serta tuntutan pertanyaan yang semuanya ingin di jawab sekarang.
Mytha gak jawab, dia hanya nangis. Papinya Mytha cuma nunjuk ke kamar jenazah.

Gue langsung bengong lagi. Jantung gue seperti digenggam Tuhan untuk berhenti berdetak, kepala gue pusing, mata berkunang-kunang.

Gue jatuh….

Dan semua…. GELAP.

……

……

Bersambung

Dessyachieriny@yahoo.com