Category Archives: FF & Cerpen

Elegi Cinta Si Pesek

Ini cerpen, bukan curhatan, daripada baca curhatan — Mending kita tadarusan.

Apa cuma gue manusia di bumi satu-satunya yang tiap hari kepengen sarapan kue bantal dan kopi doangan. Siangnya berubah haluan, nyemilin bubuk milo dan nata de coco semangkok. Gaya hidup yang entah salah dimana.

Jadi inget ketika jaman sekolah…

Kacamata baca udah dibenerin berulangkali, tetep aja nyerosot bebas udah kaya perosotan anak TK. Hidung pesek ini apakah kelak akan menjadi anugerah di akherat? Apakah di bumi, hambamu ini harus berbohong supaya bisa mancung kaya tokoh bocah kayu Pinokio? Lelaki kurus kuper ini kerapkali memiliki pandangan bahwa keseriusan dan wajah ganteng selalu menjadi titik ukur keberhasilan. Keseriusan gak usah ditanya, tapi ganteng… itu yang gue gak punya. Kalau lu liat, mungkin bakalan bilang inalilahi berkali-kali. Sampe bersyukur kepada Tuhan gak dikasih pembagian jatah wajah mirip kaya gue.

Bodo amat seharian ini gue ngeluh melulu. Bodo amat.

Selera pakaian gue aja pake segala dikomentarin. Gue emang suka style yang beda, celana cutbray dengan motif polkadot adalah yang paling keren dan nyentrik saat itu. Bagi gue. Lu orang boleh bilang gue aneh, terserah! Gue cuma bilang, gue ini unik. Paham?

Kebelet pipis di bus aja bisa jadi problematika hidup dan kegengsian yang pantas dipertahankan. Apalagi perihal kegantengan wajah. Gimana nggak, kalau gue pipis di celana karena gak tahan, sedangkan di bus isinya anak punk dan sebagian temen satu kelas. Niy muka mau taruh dimana? Di laci kolong meja sekolahan?

Gak ada yang lebih horor, ketika cinta pertama lu ditolak di depan lapangan sekolah karena cewek yang lu taksir bilang; “Woy, ngaca woiii… muka lo sama kucing persia gue aja nih, cakepan kucing persia gue. Udah pesek kepedean. Minggir ah, males liatnya!” Ujar Lia

Kemudian sontak, satu sekolah ngebully gue dengan sebutan “Pesek yang bermartabat” selama bertahun-tahun.

Siake gak tuh!

Ngebully kenapa gak masuk ke Undang Undang Dasar 45 sih? Tinggal diatur ntar pasal berapa. Aelah. Apa perlu gue jadi presiden dulu?

….

Sekarang, kita semua udah gede. Mau emak kita ngasih makan nasi sama mecin tiap hari, tetep aja bisa tumbuh tergantung niat dari Tuhan.

Gue melangkah gontai, ke reunian sekolah. 20 tahun gak ketemu berandal-berandal sekolahan SMA (Mario, Didit, Hendrik dan Galih) , primadona sekolah (Kalina, Raya, Niar) si tukang nyinyir dan ngebully (Dika bencong melehoi, Nanar, Kisra) juga… cinta pertama gue – Lia.

Sebrengsek dan sengeselin apa pun mereka dulu, ketika reunian topik paling seru cuma ngebahas hal lucu dan paling bodoh di hari yang kemarin tetep aja selalu menjadi asik. Hal-hal sepele yang membuat kita tertawa lepas tanpa tertahan. Hal-hal yang mampu dengan leluasa kita bercanda serta mengingat bahwa kita pernah sama-sama menjadi kita. Karena kita yang dewasa sekarang, adalah bagian dari kanak-kanak kita yang sama-sama melangkah ingin menjadi “Apa dan siapa dari rahasia Tuhan” di hari yang kemarin.

Latar belakang manusia yang dulu terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan di depan mata kita yang sekarang. Berandal-berandal kaya Mario, sekarang jadi sales kacang pilus ke warung-warung, Didit berubah total jadi alim, sekarang ngajar di pesantren, Galih yang dulunya tukang bolos, sekarang jadi guru, Primadona Kalina dia sekarang jadi manager di Bank swasta, beruntung dia karena bapaknya dari dulu udah kaya. Raya jadi istri simpenan pejabat daerah, kaga kerja tapi mobil gonta-ganti, Niar dia udah meninggal karena sakit kanker payudara, Dika si bencong melehoi yang gak pernah disangka-sangka sekarang malah jadi instruktur fitness, Nanar dan kisra gak ketauan sekarang dimana. Sedangkan cinta pertama gue, Lia… dia cerai dengan suaminya yang gantengnya mirip Tora Sudiro dengan tatto sebadan, akibat ketauan selingkuh dan KDRT.

Gue hanya asik dengerin mereka ngoceh cerita perihal masa lalu. Lia berkali-kali melihat ke arah dimana gue duduk. Gue hanya diam, pura-pura gak tahu. Diantara mereka di sini, mungkin gue memang yang paling sukses, menjadi pengusaha yang sempat jatuh bangun membuka usaha kecil-kecilan sebagai pemasok tas kulit. Sekarang produknya sudah dieksport keluar negeri seperti Jepang, Paris, Jerman dan hendak melebarkan sayap ke Singapore dan Brunei. Lia beranjak dari tempat dimana ia duduk, kemudian bertanya;

“Tony, apa kabar?”

“Oh, hai. Baik-baik. Kabar baik”

Kita diem lama. Dia terus ngeliatin gue. Gue ge,er sekaligus risih. Kemudian dengan lirih dan pelan dia buka suara again.

“Ton… Seandainya, aku terima cinta kamu dulu, mungkin hidup aku gak bakalan begini ya ton? Kamu masih cinta aku?” Dia menatap gue lama penuh arti, gue cuma senyum kecut. Bingung niy cewek maksudnya apa bilang gini? Yang ada di kepala gue, cuma kepengen pulang. Ngeri-ngeri sedap di sini.

Dalam hati.. Hidup ini fana — Sombong kala dulu — Apalah gunanya.

Cinta yang dewasa harus bisa membedakan mana obsesi, mana cinta sebenarnya.

Kalau obsesi menurut KBBI merupakan gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. Lu akan mengejar-ngejar sesuatu yang gak pasti. Ibarat kita beli baju di etalase toko, dari jauh keliatan bagus banget. Napsu pengen punyain, pas sampe rumah, entah itu baju gak muat, kurang nyaman dan sampai akhirnya setelah kita milikin, ya udah biasa aja gitu rasanya. Jadi gak spesial-spesial amat. Itu namanya obsesi. Kemudian kita kan kembali, memilih baju yang lama, yang nyaman untuk dipakai. Nyaman yang sebenarnya-benarnya tempat pilihan kita jatuh.

Kalau cinta… Sudah direkayasaaa. Dengan gaya. Canggih luar biasaaa. Rindu buataaan. Rindu sungguhaaan. Susah dibedakaaan. Lah. Itu lagu dangdutnya camelia malik woyy.

Selang berapa lama gue galau, sms kemudian berbunyi.

“Yah, kapan balik? Bunda sudah buat masakan kesukaan ayah. Cepet pulang, kiss sayang dari bunda”

Kemudian tanpa pikir panjang, gue pamit – Pulang.

Sebab CINTA yang baik, akan mengalahkan seribu alasan sampah yang dikenal sebagai OBSESI.

 

dessyachieriny@yahoo.com

Akar Dosa, Asmara, Narni dan Dhana

Sebab kita manusia kerapkali hanya berencana mengikuti alur hidup, namun bukan berarti tak bisa memilih pilihan yang tepat.

Tak ada hati yang benar-benar putih ketika kita melewati perjalanan yang singkat namun lama di benak masing-masing.

Kita hanya sebuah gelap yang disamarkan oleh cahaya

 

Tuhan maha baik, itu sebabnya banyak hal buruk yang kita lakukan — tertutupi.

“Ooooorang gilaaaaa… oooorang gilaaaaa…” Sekumpulan anak-anak sekolah dasar menyoraki perempuan tua, melewati tempat ia berjongkok di depan rumah. Tangan keriputnya tak henti-henti menampar pipi dan kaki sendiri dengan mulut komat-kamit mengucap sesuatu tanpa arti. Di luar, anak-anak tetangga seringkali bertingkah keterlaluan, mereka mengusir dan melemparinya dengan batu. Aku kerapkali berteriak menasehati mengenai tata krama dan sopan santun.

….

“Kelak, rumah tak perlu pendingin udara jika di dalamnya terdapat seseorang wanita yang penuh cinta, menghargai, dan menghormati. Seluruhnya akan sejuk. Iya, seluruhnya. Hati yang nyaman adalah sebenar-benarnya — Rumah” Gumamku dalam hati.

“Kapan nikah, mas Andi?” Pertanyaan mang Karjo membuyarkan lamunan.

Mang Karjo sudah bekerja hampir 8 tahun, sebagai sopir pribadi, juga bantu bersih-bersih kebun, bila sempat. Selain baik dan ramah ia kuanggap saudara sendiri, karena berasal dari kampung yang sama. Hanya saja akhir-akhir ini kelakuan genitnya mulai terlihat dengan Mbak, Ani. Pembantu baru yang datang 3 bulan lalu sebagai pengganti Mbok, Nah. Karena Mbok Nah sudah sepuh dan ingin istirahat di kampung bersama anak dan cucunya. Mereka berdua kepergok, sering main mata. Mungkin semacam morse di dalam kode telolet jatuh cinta diantara mereka. Ah, entahlah.

“Nanti malam, calonnya akan kubawa ke rumah, mang. Akan kuperkenalkan dengan ibu. Doakan saja.” Aku menimpali pertanyaan Mang Karjo dengan sumringah.

Sebagai seorang pengusaha, aku sudah memiliki segalanya. Rumah, mobil, dan pemasukan yang lebih dari cukup. Tinggal menunggu jodoh datang dari Tuhan. Lelah rasanya pacaran hanya untuk menjaga jodoh orang lain, namun tak pernah sempat benar-benar dimiliki sepenuhnya. Belajar mengenal kemudian menikah. Target sekarang di benak hanya itu. Tanpa pacaran.

Sebut saja Dhana, nama lengkap dari Nardhana Mahendra– Sekretarisku, pemilik kaki jenjang mulus yang aduhai. Walaupun aku termasuk pria yang melihat wanita bukan dari paras dan tubuh, melainkan hati. Namun, ia tak dapat kupungkiri termasuk wanita cantik dengan fisik nyaris sempurna. Tinggi langsing dengan rambut lebat bergelombang yang dapat membuat pria menelan ludah ketika melihatnya.

“Kenal dimana toh, mas? Sudah berapa lama kenal? Tumben gak cerita-cerita. Pantesan akhir-akhir ini suka tak mau dianter dan bawa mobil sendiri. Rupanya ada yang ditaksir.” Berondong pertanyaan Mang Karjo membuatku hampir tertawa terbahak.

“Pertanyaanmu itu kadang kaya list belanjaan ibu-ibu, Mang. Banyak, tepat sasaran dan ribet.” Aku meledeknya tanpa memberikan jawaban yang berarti

Selang kemudian perempuan berkerudung hijau muda melintas melewati rumah. Manis.

“Mang, itu siapa?” Tanyaku singkat. Penasaran.

“Oh, itu Mbak Narni. Kenapa? Naksir juga? Janganlah mas, dia itu janda anak dua. Sepeninggal suaminya yang sakit-sakitan pernah kepergok jadi pelacur sama orang sini. Alasannya buat membiayai hutang rumah sakit suaminya yang gagal ginjal. Karena ngelamar di mana-mana ditolak dan gak ada modal jualan. Tapi sekarang udah tobat mungkin. Dia aktif di masjid. Ikut pengajian. Tapi tetap saja pernah melacur. Cari yang perawanlah.” Mang Karjo ngoceh panjang lebar dengan tawa khasnya yang terkekeh.

“Aku berangkat, Mang. Tak usah dianter. Jaga rumah dan ibu saja.” Kemudian aku masuk ke mobil. Nyetir sendiri.

Sesampainya di kantor, aku langsung menyapa Dhana seperti biasa. Seolah tak ada yang spesial diantara kami. Kami menutupinya di kantor agar karyawan lain tidak heboh dan tetap bekerja secara profesional. Itu sudah kesepakatan. Lagi pun memang tidak ada komitmen hubungan yang jelas diantara kami. Hanya pendekatan untuk mengenal pribadi masing-masing. Ia seorang anak tunggal dari keluarga berada. Ayah Dhana pejabat eselon 2 di Kementrian Keuangan.

Sesampainya di ruangan, aku duduk. Buka line sebentar. Klik profile Dhana kemudian mengetik sesuatu.

“Selamat pagi, hari ini kamu terlihat manis dengan blazer biru. Sudah sarapan? Gimana nanti malam, sudah siap kuperkenalkan dengan ibu?”

Setelah berpikir sejenak, tulisan tadi aku hapus… agak lebay, kurang menjaga imej,tidak berwibawa, terkesan mata keranjang dan murahan. Kemudian aku mengetiknya kembali.

“Gimana, nanti malam. Jadi?” 4 kata ini bahkan aku sempat baca berulang kali sampai akhirnya aku memutuskan untuk klik enter.

5 menit aku membolak-balikkan ponsel tak ada balasan. Kemudian di menit yang ke 6, ia membalasnya.

“Ok” Aku cuma melongo, kenapa jawabannya hanya “ok” aku mengharapkan ia menulis lebih panjang. Biasanya wanita lain akan menulis panjang supaya menarik perhatian pria, kemudian aku bisa melakukan tak-tik pencitraan untuk terkesan cool dan membalasnya dengan singkat, menarik perhatiannya kembali sehingga timbul rasa penasaran lebih jauh mengenal. Kalau begini apa yang harus aku balas. Sial. Bisa-bisa aku yang mati penasaran dibuatnya. Ah!

Dalam perjalanan ke rumah bersama Dhana, kita tak banyak bicara di mobil. Agak canggung memang, karena aku memang tak begitu pandai bicara banyak dan cenderung pendiam. Aku suruh menunggu di ruang tamu sampai aku berkemas ganti pakaian dan memanggil ibu.

Aku tak sabar dan agak kikuk. Semoga ia mampu mencintai tulus ibuku. Setelah selesai ganti pakaian aku ke kamar ibu, namun kamarnya terbuka dan hanya ada suster Ririn ketiduran di karpet.

Lantas aku bergegas ke ruang tamu hendak menyapa Dhana agar ia tak terlalu lama menunggu.

“Mas, tadi ada orang gila masuk ke sini. Memangnya tidak ada yang menjaga di luar?” ujar Dhana ketakutan.

“Lalu kemana sekarang?”

“Sudah aku usir ke luar, Mas. Oh ya, Ibumu mana?”

Aku terdiam, terbayang wajah ibu yang selalu tersenyum padaku, dulu. Namun sekarang kerapkali kutemukan segaris guratan kesedihan di wajahnya, atau sepercik rasa gelisah yang kerapkali datang tiba-tiba setelah sepeninggal bapak. Kesedihan yang selalu ia ingat sampai sekarang ketika bapak meninggalkan kami dan pergi dengan perempuan lain.

Dengan nada terbata aku jawab: “Yang barusan kau usir itu, ibuku. Awalnya aku hendak mengenalkan dan menceritakannya padamu malam ini. Semoga kamu mampu mencintai aku dan juga ibu. Tapi sepertinya jawabannya sudah aku dapatkan. Akan aku suruh Mang Karjo mengantarmu pulang nanti. Karena aku harus mencari ibu sekarang. Maaf.”

Dhana hanya diam… aku bahkan tak bisa menebak isi kepalanya. Entah dia merasa bersalah, menyesal atau bahkan justru bersyukur karena tak jadi mengenal lebih jauh dengan aku yang notabene anak dari ibu yang tak waras. Ia hanya mengeluh panjang dan duduk di sofa.

Tak perlu pikir panjang aku langsung berlari keluar rumah. Sedikit sumpah serapah sepanjang jalan kepada Mang Karjo dan Mbak Ani yang entah dua orang ini ada di mana. Supir dan pembantu yang jatuh cinta bahkan lebih ribet dari hidup majikan yang kerapkali jomblo menahun. Serta seorang suster yang kutugaskan menjaga ibu bahkan ketiduran nonton sinetron.  Argghh.

Namun di ujung jalan dari arah tikungan ke kanan, aku melihat bayangan dua orang terkena sinar lampu jalanan. Ada ibu di sana, dan seorang wanita yang tak memakai alas kaki. Dia Mbak Narni, aku hanya memandang kembali ke arah bawah, aku yakin ibu pergi tak memakai alas kaki. Mbak Narni menuntun ibu pulang dengan merangkulnya. Rupanya, sendal miliknya ia pinjamkan kepada ibu. Tak ada rasa risih tentang ketidakwarasan ibu di matanya. Ia lalu menghampiri, menyerahkan ibu kepadaku dan merapihkan rambut ibuku sesekali.

Mata bulat beningnya memandangku dan berkata; “Ini ibunya mas Andi kan? Hati-hati menjaga ibu, Mas. Untung bertemu saya, ibu hampir pergi ke arah sana. Dia menunjuk ke arah tikungan lain yang lebih jauh dari sini.”

Narni… nama itu kuulang-ulang kesekian kalinya dalam tidur.

Setiap kuingat nama itu aku selalu tersenyum. Aku tak melihat akar-akar dosa masa lalu yang tumbuh lebat dalam dirinya. Masa lalu adalah paket hidup yang menjadikan ia bercahaya seperti sekarang. Bukankah, setiap manusia memiliki dosa yang terus tumbuh.

Memenuhi dunia.

Terlalu banyak orang-orang yang sibuk menceritakan kisah hidupnya paling baik tanpa merasa peduli mengenai kisah pahit orang lain di kehidupannya yang lampau. Hidup memang punya cerita, namun hati orang — Siapalah tahu?

Entahlah, yang jelas aku menyukai cara ia menatapku, juga ibuku. Lalu kusempatkan bertanya dalam doa sebelum kantuk benar-benar membuatku terpejam.

“Tuhan, apakah Narni adalah jawaban dari sebenar-benarnya rumah bagi aku dan juga ibu?”

 

Dessyachieriny@yahoo.com

Cinta Tanpa Tapi di Mata Seorang Emak

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Ketika sakit datang, entah kenapa kata-kata itu mulai bergaung.

Banyak ingatan tentang emak, berjelaga di kepala.

Menjadi runtuh satu-satu.

Mungkin ini yang dinamakan rindu. Rindu emak, juga rindu kampung halaman yang mengingatkanku pada sebuah desa dekat jembatan Kebasen ~  Kedungrandu. Ada bunyi kereta yang akrab di telinga dan beberapa pohon rambutan yang menari tiap kereta datang.  Serta bongkahan ingatan ketika emak mengajak saya, anak lanang emak satu-satunya yang tak tahu terimakasih ini, untuk sekedar berbagi waktu sebentar dalam sepenggal ingatan kecil menikmati pemandangan di sepanjang jalur Stasiun Kebasen sampai ke Stasiun Notog, melintasi Terowongan Kebasen, Jembatan Serayu, dan Terowongan Notog dengan Kereta Api Sawunggalih Utama, kala itu.

Sungguh, sebrengsek apa pun kita dibuat dunia untuk memilih jalan yang berbeda setiap harinya, jalan yang kerapkali tipis berbatas antara benar dan tidak. Namun,  selalu ada gelora cinta tanpa tapi di matanya.

Mata seorang, emak.

Iya…

Mata seorang, emak!!!

Kita, kerapkali menjadi seorang pemimpi, yang mengabaikan hal baik dan sering membuat emak kita kesal dengan tingkah yang sama sekali tak mencerminkan kedewasaan.

Apakah aku masih pantas disebut anak lanang satu-satunya di hati, emak? 10 Tahun sudah berlalu, aku merantau di pulau sebrang, Kalimantan. Menjadi asik dengan penghasilan memadai seorang pengusaha kayu dan batu bara tanpa sehari pun aku pernah mengunjungi emak.

Siaga Tomodiharjo, nama pemberian emak apakah masih pantas aku sandang?

Nama yang paling disegani di sini.

Pesan terakhir yang emak katakan sebelum aku merantau tiba-tiba menjadi hal paling sibuk yang diputar-putar oleh Tuhan secara jelas di kepala;

“Hidup adalah bagaimana memberi arti pada setiap nafas yang kita miliki, nak. Bukan hal-hal yang memberi kepuasan dengan berbau materi.”  Tapi kata-kata itu aku lupa merekamnya di hari yang kemarin, nasehat emak hanya sebentar teringat diperbatasan sungai  Serayu – Lalu hilang.

Terhapus jejak perjalanan, terhapus ambisi dan keinginan.

Aku tahu, langkahku membuat batinnya menangis. Tangisan lirihnya seolah mampu meluluh lantakkan hati pemilik langit. Tapi aku bisa apa? Egois di kepala dan gimingan penghasilan besar kurasa lebih menggiurkan. Mata yang berkaca-kaca, doa-doa yang terdengar selepas sujudnya adalah hal paling kabut dari mata lamurnya tanpa harus aku buat ribut. Pikirku berulang kali.

Lalu esok paginya, kala itu aku pergi.

Dan sekarang, aku menjadi pengusaha paling dihormati di Kalimantan.

Apakah aku sudah berhasil, mak?

Di satu sisi dunia mengatakan kata “IYA” dengan lantang.

Namun, di hati ini justru sebaliknya.

Aku menarik nafas, melegakan dada yang kian menyempit dan terjepit. Tak ada siapa-siapa dan tak ada apa-apa yang harus dibanggakan ketika aku sakit sekarang. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dua kali.

Tok-Tok

“Masuk!” aku berujar pelan, rupanya Bi Asum, yang bertugas membersihkan rumah setiap hari. Ia datang hanya untuk melontarkan kabar bahwa ada seseorang wanita tua yang berada di luar. Emak dari saya.

Saya sempat tersontak, leher rasanya seperti tercekik diantara tuas pompa tua yang karatan, berdecit dan berderik. Tak ada hal-hal rumit yang ingin aku pikirkan selain berlari saat itu — Memeluknya.

”Dengan siapa Mak ke sini?” lontarku penasaran. Ada keinginan yang menyeruak seketika untuk mengulang pertanyaan yang sama, namun malah beralih ke pertanyaan berikutnya.

“Bagaimana Mak bisa tahu, Aga tak pernah beritahu emak alamat ini?” aku mulai menangis lama, tangisan yang sejatinya sudah lama terpendam, tangisan seorang anak lanang emak yang telah menjadi seorang laki-laki tampan yang lebih dewasa. Tangisan sebagai  ucapan minta maaf paling lirih tanpa pernah benar-benar terlontar kata maaf yang terdengar.

Emak hanya tersenyum tanpa menjawab semua pertanyaan yang sudah aku katakan. Memeluk paling erat dari yang ia bisa dengan segala kekuatan otot dan tulangnya yang renta.

Emak mengatakan dengan bisikan paling lembut, suara dan nada yang sama yang seringkali ia bisikan padaku, dulu;

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Lampu benderang. Serentak. Warna hitam, kuning, biru dan merah datang bersamaan. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lama-kelamaan menjadi jelas dari sebelumnya. Jelas, makin jelas dan terang dan lebih terang.

Tiba-tiba aku terbangun…

Rupanya hanya mimpi, sebuah mimpi yang menjadi tamparan keras selama bertahun-tahun. Aku bergegas menyuruh Bik Asum untuk mengemasi barang sebagai bekal pakaian perjalanan ke Kedungrandu – Patikraja esoknya, mengunjungi emak.

……………………………………..

Aku menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Beberapa jam lagi sampai.

Membayangkan rindu, sebuah pelukan dan ciuman pipi emak yang dingin sehabis membasuh wudhu, rindu suara nyala TV dengan pilihan volume paling keras, rindu kegiatan semprot hama di samping sawah pak Haji Wahyudi yang sebagian tanah lagi ditanami pohon terong ungu, dan rindu suara kemerosok radio tua saat aku berebut untuk mendengarkan lagu yang berbeda.

Aku menyusuri kampung halaman masa kecil dulu, sekian lama hampir tak banyak berubah. Hanya saja, sekarang lebih banyak jumlah rumah yang dibangun. Namun akses jalanan masih sama, tanpa aspal, liat dan becek. Pembangunan tak merata di sini. Keluhku berulang kali.

Ada banyak harapan dan bekal cerita yang ingin saya sampaikan. Rumah emak sudah terlihat.

Malam di langit mulai merangkak, gerimis turun, bunyi jangkrik, suasana gelap dan sepi. Rumah emak tak sebersih dulu rupanya. Seseorang bersarung menyapa saya dengan membawa lampu petromak dan payung warna biru laut.

“Cari siapa? Mak Kurti? Mak Kurti sudah meninggal seminggu yang lalu” Suaranya khas yang datar tak terlalu mengejutkanku. Raut muka yang masih aku kenal, hanya saja garis tuanya mulai banyak terlihat, Bang Seno. Tetangga emak.  Tapi kabar yang ia sampaikan membuat aku bergidik, marah, kesal dan mulai menyalahkan diri sendiri.

Bathin rasanya sesak, tubuh seolah limbung dan gemetar.

Aku tak sanggup menanyakan di mana emak di makamkan. Tak sanggup.

Aku memutuskan beranjak kembali tanpa istirahat dan menginap di sana, lalu pamit singkat dengan mengucapkan terimakasih. Bang seno hanya diam, heran dan melongo. Sepertinya ia sudah tak mengenali wajah dewasa milikku. Bocah yang dulu kerapkali merengek ikut dengannya hanya untuk diajari memanjat pohon kelapa.

Saat menyeberang jalan. Kepalaku tiba-tiba pening. Diam sebentar. Lalu lampu terang milik Truk pengangkut pasir menyorot di depan.

Ketika banyak orang-orang yang mulai teriak.

Aku hanya mendengar bisikan emak.

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Braaaak….

Hanya ada jerit, suara riuh sirine ambulance dan darah yang menggenang.

“Mak, aku pulang. Ke rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya yang masih sama”

…….

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

Warjiman dan Pelet Pemikat

 

Nikmat rasanya duduk di balai-balai bambu, dua potong sisa gethuk dan adukan kopi hitam dengan ampas penuh mengambang sampai ke bibir cangkir.

“Sial, baru minum seteguk. Serbuk kopi sudah membuat tenggorokan rasanya tersendat” ujarku dalam hati. Aku rasa, Sastri menyeduh kopi hanya menggunakan isi termos dengan air yang tak lagi panas seperti kemarin. Istri Warjiman memang tak begitu pandai membuat kopi, namun tubuh semok miliknya yang membuat aku justru rajin kemari.

Kuhisap dalam-dalam sebatang rokok yang semenjak datang ke sini diletakkan di asbak samping, aku layangkan pandangan keluar dan melihat Aba Marjani mulai membuat janur. Aktifitas yang mulai ia tekuni setelah pensiun menjadi PNS. Dari jendela, pohon-pohon cengkeh yang berderet itu, rupanya banyak yang sudah mulai berbunga. Ah, tapi pinggul Sastri adalah hal paling madu dari bunga mana pun sebagai iklan penglihatan paling manis akhir-akhir ini.

Aku mulai mengamatinya kembali…

Sastri sejak tadi keluar masuk dapur memasak untuk suaminya, gak kelar-kelar. Lebih parahnya lagi, yang aku rasakan bahkan masakan miliknya selalu keasinan. Tapi Warjiman bodoh itu selalu bilang, bahwa masakan Sastri adalah masakan paling enak di seluruh alam semesta. Kegeblek-geblekkan yang dipelihara sejak ia menikah.

Buatku, memuji wanita adalah hal paling bodoh yang tidak perlu aku lakukan. Sebab wanita akan menjadi besar kepala dan tingkat menguasainya akan masuk ke dalam taraf paling nyebelin sedunia.

Wajah Warjiman kurasa hitam legam mirip dakocan dengan perut buncit menyembul keluar, nafas yang seringkali memburu dan pemilik keringat paling bau di kampung. Namun, tetap saja aku iri padanya. Ia satu-satunya orang yang sama sekali tak mendapatkan jatah tampan dari Tuhan namun di sini, ia pemilik istri paling cantik di Desa Sukaresi.

Aku sering mengamati kehidupan mereka, sampai sekarang tak pernah habis pikir bagaimana dan betapa istrinya sangat mencintai Warjiman. Hal yang paling tidak masuk akal. Entah pelet memikat yang seperti apa yang sudah ia kasih?

Dering ponsel berbunyi…

Awalnya aku enggan mengangkatnya, tapi ponsel terus saja berbunyi berulang kali. Kulihat nama yang tertera sebentar; Dari Asih, wanita paling bawel yang aku nikahi, dengan rasa enggan aku mulai mengangkatnya. Ia mulai bicara dengan nada perintah dan sebagian di isi dengan ceramah. Tentang beli susu, beras yang habis, buku anak belum terbeli dan masih banyak lagi. Aku hanya mendengarkannya tanpa menjawab sepatah kata pun. Lalu sengaja aku matikan. Aku yakin ia akan menelpon kembali.

Dugaanku benar saja…

Tak butuh waktu lama, selang beberapa detik ponsel itu kembali berbunyi. Kali ini aku benar-benar tak ingin mengangkatnya. Sebab, aku sama sekali tak memiliki jawaban yang pantas aku sampaikan.

Bagaimana mungkin aku pulang. Pipi saja masih biru dihajar massa… rahangku seolah terasa remuk. Sama sekali tak ada sisa ketampanan, wajahku sekarang seolah hilang tertutup memar. Sial, lagi-lagi sial. Warjiman adalah temanku saat SMP dulu. Orang paling bodoh namun paling rajin. Sedangkan istrinya Sastri adalah mantanku. Bagaimana mungkin ia dulu tak terpikat padaku, banyak wanita yang memuji ketampananku sejak lama. Hidup paling ngehek adalah ketika kita tetanggaan dengan mantan pacar dan suaminya adalah teman masa kecil dulu.

“Kau, mulai maling lagi Dhar?” kata-kata Warjiman membuatku sempat tertawa miris. Aku mengangguk lemah. Ia rupanya hafal kelakuanku ketika terdesak dengan peliknya kehidupan seperti sekarang.

“Demi hidup, aku hanya mengambil beberapa kardus susu di toko paling besar di kampung seberang” Jawaban paling jujur yang aku katakan padanya.

Warjiman lalu membuka sarungnya dan mulai mengambil dompet di kantong celana pendeknya.

“Ambillah, belikan susu anakmu dan sebagian lagi berikan ke istrimu untuk dibelanjakan. Sudah berapa kali kubilang jangan pernah kau ulangi. Segala hal yang berawal dari tak baik tak akan pernah mampu menyelesaikan masalah”

Aku diam. Hanya kecanggungan diantara kami.

“Sok pintar. Si buntelan bodoh ini mulai ceramah juga rupanya.” Aku mengumpat dalam hati tak habis-habis.

Entah kenapa aku lagi-lagi mulai tertawa. Menertawakan nasib. Menertawakan hal-hal yang menyedihkan sebagai hal paling baik saat ini. Percakapan-percakapan yang meluncur dari Warjiman yang berlaku diantara kami kerapkali aku nikmati. Namun, entah kenapa dia selalu berhasil membuatku semakin dekat dengan kesahajaannya.

Aku mencari pemantik, untuk menyalakan rokok lintinganku ketiga. Tapi, kerapkali tak kutemukan. Aku mengeluh berulang kali dan menyebut kata-kata kotor yang membuatku lebih nyaman karena terbiasa.  Warjiman kemudian memanggil Sastri.

“Dek, tolong ambilkan pemantik abang di lemari kaca!”

Sastri kemudian keluar kamar dengan rambut lebat yang terurai ke depan, wangi harum lavender, daster hijau tosca yang ia kenakan nampak membuatnya menjadi lebih manis. Sangat manis.

Tanpa sadar, aku mulai berbisik ke telinga Warjiman

“Pelet pemikat apa yang kau berikan pada Sastri hingga ia tergila-gila padamu?”

Dari arah ruang tengah Sastri menjawab, rupanya bisikanku terdengar. “Pelet pemikat yang sanggup membuat wanita lemah adalah, rasa hormat pria kepada wanita, rasa sayang pria, rasa yang membuat kita merasa sangat dihargai, dicintai begitu besar, sebuah kesetiaan dan rasa tulus yang diberikan. Selebihnya tak ada yang sanggup memberikan jaminan kebahagiaan, namun abang memberikan saya semuanya, yang dulu tak pernah saya temukan padamu”

Saya diam. Kesal. Kemudian pamit pulang.

 

Dessyachieriny@yahoo.com