Cinta Tanpa Tapi di Mata Seorang Emak

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.” Ketika sakit datang, entah kenapa kata-kata itu mulai bergaung. Banyak ingatan tentang emak, berjelaga di kepala. Menjadi runtuh satu-satu. Mungkin ini yang dinamakan rindu. Rindu emak, juga rindu kampung halaman yang mengingatkanku pada sebuah desa dekat jembatan Kebasen ~  Kedungrandu. Ada bunyi kereta yang akrab di telinga dan beberapa pohon rambutan yang menari tiap kereta datang.  Serta bongkahan ingatan ketika emak mengajak saya, anak lanang emak satu-satunya yang tak

Continue Reading

Warjiman dan Pelet Pemikat

  Nikmat rasanya duduk di balai-balai bambu, dua potong sisa gethuk dan adukan kopi hitam dengan ampas penuh mengambang sampai ke bibir cangkir. “Sial, baru minum seteguk. Serbuk kopi sudah membuat tenggorokan rasanya tersendat” ujarku dalam hati. Aku rasa, Sastri menyeduh kopi hanya menggunakan isi termos dengan air yang tak lagi panas seperti kemarin. Istri Warjiman memang tak begitu pandai membuat kopi, namun tubuh semok miliknya yang membuat aku justru rajin kemari. Kuhisap dalam-dalam sebatang rokok yang semenjak datang ke

Continue Reading

Hidup Itu Indah Ujar Mbok Sumi

Tanah merah masih juga basah… Tak ada karangan bunga disini, semuanya bahkan gelap. Mbok Sumi diam di depan pemakaman 3 jam lebih yang hanya berhias bunga kamboja. Entahlah, mungkin di area pemakaman ada sekitar 50 pohon bunga kamboja atau bahkan lebih. Anak mbok Sumi paling kecil meninggal karena kelaparan. Ini tentang faktor kemiskinan. Tak heran, hidup memang seperti itu, dunia terkadang cahaya bagi sebagian orang, namun bagi orang miskin seperti Mbok Sumi seolah terlihat gelap gulita. Gersang, penuh ratap. Mbok Sumi

Continue Reading

Site Footer