Blog Posts

Mari Kita Bercerita

Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas… Kau yang selama ini telah kusimpan Di dalam relung yang paling dalam Sesaat terbuka dengan sebuah kunci kejujuran Memuat berbagai cerita dan lantunan kata-kata pujangga   Namun kusadar bahwa segala yang kita rasa Terkadang tak selalu berjalan seirama Menembus hal yang tak mungkin terlewati Karena sadar itu membuat kita semakin belajar   Mari kita bercerita Tentang kisah yang kita punya Tentang puisi yang kita cipta Tentang lantunan yang kita rasa Hanya sekedar

Continue Reading

One Day

Hari itu… Matahari seolah pergi meninggalkan kita jauh-jauh. Tak ada terik. Aku tak perlu berteduh, karena cuaca rupanya sudah benar-benar teduh di bawah parasmu itu. Hingga mungkin, ia juga ikut mendengarkan semua coletahanmu atau bahkan celotehanku yang bertukar untuk sama-sama kita dengarkan di sebuah kedai makanan cepat saji. Aku sudah melihat semuanya, kebekuan yang menembus dingin yang asing dari masing-masing kita. Memaparkan segala ruang, di waktu-waktu lampau sebelum pintu, jendela, dan  udara yang mampu memasukkan aku, telah Tuhan tutup rapat-rapat.

Continue Reading

Pembahasan yang Tak Pernah Dilunturkan Hujan

  (Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, diatas…)   Entah, apakah kita hanya terus berjalan, sampai kaki-kaki tak kuat lagi melangkah. Sampai kata-kata tak ada lagi yang perlu disampaikan.   Katamu; Disini, hanya kosong… Aku bilang; Disini memang kosong, tapi ada kamu dan aku untuk melengkapi kekosongan itu.   Sempurnalah kita….   Kamu hanya tersenyum, lalu aku melakukan pembahasan yang tak pernah dilunturkan oleh hujan. Jika pun kau pergi, kau tak akan mampu menjauhkan aku dari sebuah cerita. Aku akan

Continue Reading

Rindu Juga Bagian dari Warna

  (Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas)   Kita membutuhkan banyak sesuatu, untuk mengerti sesuatu. Agar segala yang dibenturkan bernama kesedihan. Tidak kita lakukan secara berulang. Kau kerapkali berada dalam tempat yang tersembunyi. Seperti kopi, sepi dan puisi. Matamu yang jatuh cinta itu sewarna dengan jingga, waktu-waktu dimana langit penuh nada dan paling bahagia. Sedangkan bibirmu adalah bahagia paling abadi, dunia paling surgawi, menyala di sepi-sepi. Kita hanya membicarakan perumpamaan, tentang gelombang harapan di lautan dan cinta yang selembut

Continue Reading

Site Footer