Blog Posts

Memunculkan Sensasi Mengagumkan Mengenai Tradisi dalam Kemeriahan Festival Siti Nurbaya 2016

Kata “Siti Nurbaya” sudah tidak asing di telinga, saya bahkan pernah tergabung dalam sebuah teater untuk memerankan Siti Nurbaya di dalam sebuah drama, yang digabung dengan musikalisasi sebagai penunjang pertunjukkan.  Kisah yang melegenda bagi masyarakat Minangkabau, bahkan gemanya sampai ke pelosok daerah lainnya ketika film ini diangkat ke layar kaca yang diadaptasi dari sebuah novel “Kasih Tak Sampai” ditulis oleh Marah Rusli. Jika kalian asli Padang dan mencintai Ranah Minang, ah… sudahlah, tak perlu diragukan lagi. Namun, saya bukan orang

Continue Reading

Siti Nurbaya, Lemang, Nasi Kapau, dan Wisata Padang yang Rancak Bana

Kita kerapkali berdialog dengan semesta yang semakin tua. Namun, kumparan pikiran kita justru kerapkali baru. Menciptakan sebuah pertanyaan atau sekedar mempertanyakan hal-hal yang menarik untuk membuat hidup kita kembali semakin asik dan menyerap hal-hal baik lebih banyak. Kekasihku wahai Syamsul Bahri, Siti Nurbayamu hendak keliling Kota Padang dalam sebuah tulisan. Jika kasih kita tak sampai, kalian bacalah tulisan uni, masa tak jua merasa tertarik menjejakkan kaki ke Padang? Oh amboi.. Kota Padang rancak bana uda… Apa yang sudah kita berikan,

Continue Reading

Aku Anak Jujur dan Keajaiban Mendengarkan

Dengan menghormati kehidupan, kita memasuki sebuah hubungan spiritual dengan dunia, begitu pun arti dari sebuah kejujuran yang memiliki nilai-nilai spiritual. Sebuah kebahagiaan, kelegaan yang didapat dari orang-orang yang terbiasa berkata benar. Melempar pandangan yang berbalut senyuman, keajaiban mendengarkan, menikmati kucuran kasih sayang dalam keluarga, menanamkan kepercayaan, bagi saya adalah langkah penting untuk membangun tradisi hidup jujur yang kelak menjadi kebiasaan. Apa yang kalian tangkap dari arti kata kejujuran? Lantas, apakah generasi yang mencerminkan realita kekinian mampu memahami arti kata jujur?

Continue Reading

Kau Bebas Menyebutnya Apa Saja

Apa pernah kau merasakan garis masa depan dibentangkan dengan harapan-harapan yang terlalu lama tersimpan kemarin? Malam ini, rindu paling nyeri, jatuh di dahan-dahan. Dibangunkan hujan. Kau pun tahu itu. Bukankah, kenangan pernah tinggal di jantungmu yang penuh debar, sampai hati milikku kerapkali tanggal. Kau adalah segala kemungkinan yang diberkati Tuhan paling sederhana. Tumbuh menjadi senyum, dalam pucuk bahagia paling ranum. Mari berpuisi, sayang. Agar kita kerapkali mencintai hobby yang sama. Kau pemilik puisi paling manis. Untuk aku oles diujung margarine

Continue Reading

Site Footer