Kita Hanya Terus Mencoba

Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas. Kenangan di kepala kita seperti payung kuncup, yang kerapkali kita tutup. Namun, sesekali kita pernah mengijinkannya terbuka walau hujan sama sekali tak datang. Kala hujan, saya pernah mencoba membuka lebar-lebar dan rasa nyaman menjalar seisi ruang. Ada banyak sekali kata-kata yang saya simpan di laci, rak buku, kopi, perjalanan, sepotong donat dan masa lalu. Di sana, mereka sibuk membicarakan berita politik, korupsi, pemerintah, ras, dan banyak hal yang lebih hangat dari kecupan

Continue Reading

Aku Pernah

Aku pernah ingin menjadi sebuah bibit yang tumbuh di jantungmu. Menjadi tunas pertama yang melihat dunia di matamu, jauh sebelum pohon-pohon lain menyumbangkan pucuknya lebih dulu. Lalu bermain-main untuk memberikan mekar diantara versi mereka masing-masing. Aku pernah membicarakan salju pertama yang turun, dingin yang menjalar dalam hidup seolah membutuhkan peluk yang sehangat itu, sebuah hangat yang menyentuhku ketika hembusan nafasmu merubah malam menjadi lembab diantara gugur daun-daun yang bahkan aku sendiri tak pernah melihatnya utuh bersamaan jatuh satu-satu dalam ranting

Continue Reading

Mari Kita Bercerita

Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas… Kau yang selama ini telah kusimpan Di dalam relung yang paling dalam Sesaat terbuka dengan sebuah kunci kejujuran Memuat berbagai cerita dan lantunan kata-kata pujangga   Namun kusadar bahwa segala yang kita rasa Terkadang tak selalu berjalan seirama Menembus hal yang tak mungkin terlewati Karena sadar itu membuat kita semakin belajar   Mari kita bercerita Tentang kisah yang kita punya Tentang puisi yang kita cipta Tentang lantunan yang kita rasa Hanya sekedar

Continue Reading

One Day

Hari itu… Matahari seolah pergi meninggalkan kita jauh-jauh. Tak ada terik. Aku tak perlu berteduh, karena cuaca rupanya sudah benar-benar teduh di bawah parasmu itu. Hingga mungkin, ia juga ikut mendengarkan semua coletahanmu atau bahkan celotehanku yang bertukar untuk sama-sama kita dengarkan di sebuah kedai makanan cepat saji. Aku sudah melihat semuanya, kebekuan yang menembus dingin yang asing dari masing-masing kita. Memaparkan segala ruang, di waktu-waktu lampau sebelum pintu, jendela, dan  udara yang mampu memasukkan aku, telah Tuhan tutup rapat-rapat.

Continue Reading

Site Footer