Category Archives: Puisi

Aku Pernah

Aku pernah ingin menjadi sebuah bibit yang tumbuh di jantungmu. Menjadi tunas pertama yang melihat dunia di matamu, jauh sebelum pohon-pohon lain menyumbangkan pucuknya lebih dulu. Lalu bermain-main untuk memberikan mekar diantara versi mereka masing-masing.

Aku pernah membicarakan salju pertama yang turun, dingin yang menjalar dalam hidup seolah membutuhkan peluk yang sehangat itu, sebuah hangat yang menyentuhku ketika hembusan nafasmu merubah malam menjadi lembab diantara gugur daun-daun yang bahkan aku sendiri tak pernah melihatnya utuh bersamaan jatuh satu-satu dalam ranting yang sama.

Aku pernah mencoba menjadi alam paling sunyi, dimana kau dan aku pernah tinggal untuk mengenal menyepelekan sesuatu. Mengenai kenyataan, tentang alam bawah sadar di kepala kita masing-masing. Sampai untuk kesekian kalinya, kita hanya akan mencoba mengingatnya – Kembali.

Aku pernah menduga-duga. Kau adalah sosok kunang-kunang, yang terbang tanpa suara namun ditakdirkan Tuhan banyak memberikan cahaya. Seperti ribuan ikan neon kecil yang berenang bersamaan tanpa mematahkan apa-apa dalam arus air. Kau sebut ia, rindu. Terkadang aku menyebutnya, pilu.

Aku pernah menyatukan lembaran kemarin dan menyusun atas apa-apa yang tak pantas aku susun. Kau berasal dari semua cahaya yang padam, nyala kembali di ruang paling sepi, diciptakan kenangan, juga diciptakan hujan. Kau adalah buluh paling nyeri, yang tak mampu dilupakan sama sekali. Kemudian kita tenggelam dalam diam yang menjadi kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya tiada di jantung sajak Sapardi.

Aku pernah mengisi titik-titik yang tak pernah selesai dalam ujian yang kemarin.

Masih terus saja mengigau membicarakan hal-hal yang mustahil.

Tentang sajak dua kata yang kita ciptakan sama-sama “Aku Pernah”

 

Dessy Achieriny

Mari Kita Bercerita

Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas…
Kau yang selama ini telah kusimpan
Di dalam relung yang paling dalam
Sesaat terbuka dengan sebuah kunci kejujuran
Memuat berbagai cerita dan lantunan kata-kata pujangga
 
Namun kusadar bahwa segala yang kita rasa
Terkadang tak selalu berjalan seirama
Menembus hal yang tak mungkin terlewati
Karena sadar itu membuat kita semakin belajar
 
Mari kita bercerita
Tentang kisah yang kita punya
Tentang puisi yang kita cipta
Tentang lantunan yang kita rasa
Hanya sekedar berbagi cinta dan kenangan
 
Mari kita bercerita
Pada burung-burung aku akan berbagi kesepian ini
Mengabarkan suara kita yang lantang
Yang dulu tersimpan rapat dalam hati dan jiwa
 
Kudengarkan semua ceritamu
Walau air mata tak bisa kuhentikan
Karena penyesalan pun menjadi hikmah
Untuk insan yang bersemangat
 
Kudengarkan semua curahanmu
Sampai air matamu mengering dibasuh kerinduan
Seperti haus diantara rumput-rumput hijau bermekaran
 
Jangan bersedih sayang
Lihatlah dirimu dalam bulan purnama
Kau tampak merdu sekali dengannya
 
Dan maaf untuk cerita hatimu itu
Kudengar atas segala yang kau syairkan
Menikmati alunan musik pada nada kita
Karena memang hanya bisa sebatas itu.

One Day

Hari itu…

Matahari seolah pergi meninggalkan kita jauh-jauh. Tak ada terik. Aku tak perlu berteduh, karena cuaca rupanya sudah benar-benar teduh di bawah parasmu itu. Hingga mungkin, ia juga ikut mendengarkan semua coletahanmu atau bahkan celotehanku yang bertukar untuk sama-sama kita dengarkan di sebuah kedai makanan cepat saji.

Aku sudah melihat semuanya, kebekuan yang menembus dingin yang asing dari masing-masing kita. Memaparkan segala ruang, di waktu-waktu lampau sebelum pintu, jendela, dan  udara yang mampu memasukkan aku, telah Tuhan tutup rapat-rapat. Aku tak perlu memerankan apa-apa, aku hanya menyiapkan diriku untuk kau cintai dengan cara paling sederhana. Dengan membolak-balikkan ponsel agar rasa kikuk, segera mereda.

Cahaya matamu, menandakan kemeriahan kita masih belum usai, mari bersenang-senang! Seru suara dalam hati yang kerapkali terjun di bawah akal sehat waktu itu. Aku menangkapnya dari senyum paling bisu, yang tak bicara, tapi aku mengerti artinya.

Diamlah, tuan. Ijinkan aku menatap matamu lama-lama sampai waktu dan hujan berhenti dengan sendirinya

Kala itu, aku anggap waktu paling baik sebagai istirahat panjang dari segala kesulitan hidup yang aku sembunyikan dari kepala orang-orang. Lalu pergi kepadamu, ke dalam kota yang penghuninya sama sekali tak mengenal kita dan tak pernah mempertanyakan kenapa kita berada di sana.

 

Hari ini…

Aku sudah berhenti untuk menghitung detak seberapa kencang di hari kemarin. Kita tak benar-benar menjadi lelah. Malam kerapkali membuat kita terjaga untuk merekam segala hal, agar yang bernama lupa —  tak perlu kita bawa pulang.  Ada waktu usai bagiku dan tiba waktunya kita pergi. Tanpa pamit dan aku tak perlu lagu-lagu pengiring yang sengaja membuat kita patah di tengah setelahnya, hanya menyisakan genggaman tangan hujan yang sengaja aku tahan sebentar untuk kita, mengingat-ngingat hal yang sama.

Pikiran rasionalku — kadang ada, kadang tidak.

Apa yang kau lihat dibalik jendela itu?

Apakah sesuatu yang gagal kau ingat, bangku-bangku yang memajang kita untuk bermimpi sebentar, pola password henpon yang sama, atau burung-burung yang membawa nasib kita jauh-jauh dengan sekantong harapan yang semakin padat dan susah terangkat?

 

Sekarang…

Aku hanya ingin kembali melihat kamu.

Menjadi butir hujan.

Dan semua selesai.

 

Dessy Achieriny

Pembahasan yang Tak Pernah Dilunturkan Hujan

 

(Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, diatas…)

 

Entah, apakah kita hanya terus berjalan, sampai kaki-kaki tak kuat lagi melangkah.

Sampai kata-kata tak ada lagi yang perlu disampaikan.

 

Katamu; Disini, hanya kosong…

Aku bilang; Disini memang kosong, tapi ada kamu dan aku untuk melengkapi kekosongan itu.

 

Sempurnalah kita….

 

Kamu hanya tersenyum, lalu aku melakukan pembahasan yang tak pernah dilunturkan oleh hujan.

Jika pun kau pergi, kau tak akan mampu menjauhkan aku dari sebuah cerita.

Aku akan diam-diam mengikutimu pelan-pelan.

 

Kau yang tak pernah tahu?

Atau aku yang selalu punya waktu?

 

Kau sembunyi, aku tak akan pergi.

Ada disini — Jauh di tengah sepi.

 

 

Dessy Achieriny