Sajak Dalam Secangkir Kopi

Sajak Dalam Secangkir Kopi

Aku mencari rindu yang hilang di permukaan, kuharap cinta menguatkan kita dari hal itu. Dijariku semua tertulis segalanya. Ada wangi kopi robusta yang kutelan lekat-lekat. Kuharap seiring waktu percakapan kita tak pernah menjadi mahal. Kubalikkan saja semua waktu dan kenangan jadi satu, kubungkus dan kubuang jauh-jauh. Cinta itu disana. Dipermukaan cangkir yang kutuang dengan cara yang sederhana dan tersenyum padamu seperti biasa. Kopi dicangkir hampir habis, mendekati ampas yang terkadang tertelan dan membuatku terbatuk-batuk, namun kuharap percakapan kita tak pernah

Continue Reading

Temaram Padam

Temaram Padam

Sajak kutulis diiringi derak sepatu Saat jejak menjaga jarak Ada jemu yang tertulis tentang ragu Di kota ini, hujan kerap datang tiba-tiba Dingin menyergap dada, baru saja.   Kenapa musim di negara ini hanya dua? Berharap musim berganti, kemudian semi menyapa kita. Bunga mencipta kelopak merah, kuning, biru dan warna lain   Apa kau juga suka?   Sebuah gambaran metafor puisi diksi Lalu aku mengadu pada siluet diri di dinding sisi kiri Senja memudar dan malam seperti biasa tepat waktu

Continue Reading

Siluet Ambigu

puisi siluet ambigu tertiup lembayung pada usia parau

Author : Dessy Achieriny Logikaku bersenandung pada siluet ambigu Aku tertiup lembayung pada usia parau kehidupan Saat novel kidung cinta di pohon kurma diterbitkan Sebuah Antalogi puisi yang telah kupikirkan   Aku ragu saat puisiku terputus di ujung senja Mencipta ruang kosong diperbatasan Memoar memudar diiringi senandung biduan Urat nadiku seolah melingkar pada batas ambang bayang   Tiga kali kuucapkan kata *sayang* tak terpisah tanda koma, titik, maupun tanda seru Aku rindu madu yang manis di bibirmu Kecupan manis yang

Continue Reading

Serupa Aku

Serupa Aku

Serupa Aku Kata itu mengeras dalam makna,  namun melaju kaku, simpul senyum terikat seakan kuat hilang pecah berhamburan.. Bagai kapal yang berlayar terlupa darat, pelabuhan dingin pada diriku tercermin lusuh. Heran. Rusak hati rusak jiwa, petakalah semesta hari. Sukmaku riuh dalam tanya, ada rahasia di balik rahasia. Merambat tengah malam aku masih diperaduan, hujan mengasuhnya dalam dingin. Ingin kutulis rasa dalam sobekan-sobekan daun jati, dialirkan ke semesta hari supaya ia dapat mengerti. Cinta itu apa? Sumpah serapah serupa aku.  Mataku

Continue Reading

Site Footer