Category Archives: Puisi

Temaram Padam

Sajak kutulis diiringi derak sepatu

Saat jejak menjaga jarak

Ada jemu yang tertulis tentang ragu

Di kota ini, hujan kerap datang tiba-tiba

Dingin menyergap dada, baru saja.

 

Kenapa musim di negara ini hanya dua?

Berharap musim berganti, kemudian semi menyapa kita.

Bunga mencipta kelopak merah, kuning, biru dan warna lain

 

Apa kau juga suka?

 

Sebuah gambaran metafor puisi diksi

Lalu aku mengadu pada siluet diri di dinding sisi kiri

Senja memudar dan malam seperti biasa tepat waktu — datang.

Disusul sang temaram padam yang dijadwalkan

 

Gelap, bagai kota-kota mati

Pelita menerangi sebagian, ditemani beberapa titik cahaya lilin kecil

Kau lihat, sayang

Di sana, bulan tak pernah kehabisan cahayanya

Semua tertulis…

Hingga mata terbiasa dalam gelap menulis dan tutur mulai bicara sendiri pada malam yang enggan menjadi kelambu

 

Sayangku, kenapa padam kali ini lama sekali?

Sampai aku merindukanmu

Dan mulai mengantuk

 

 
Saat lampu padam bergiliran, 28 may 2011

Siluet Ambigu

Author : Dessy Achieriny

Logikaku bersenandung pada siluet ambigu

Aku tertiup lembayung pada usia parau kehidupan

Saat novel kidung cinta di pohon kurma diterbitkan

Sebuah Antalogi puisi yang telah kupikirkan

 

Aku ragu saat puisiku terputus di ujung senja

Mencipta ruang kosong diperbatasan

Memoar memudar diiringi senandung biduan

Urat nadiku seolah melingkar pada batas ambang bayang

 

Tiga kali kuucapkan kata *sayang* tak terpisah tanda koma, titik, maupun tanda seru

Aku rindu madu yang manis di bibirmu

Kecupan manis yang lembut mencipta rasa

Saat Kubisikkan kata manja “jangan berisik sayang” dan mengecup bibirnya lagi lalu *hening*

 

Guguran kisah demi kisah, 23 mei 2011
 

Serupa Aku

Serupa Aku

Serupa Aku
Kata itu mengeras dalam makna,  namun melaju kaku, simpul senyum terikat seakan kuat hilang pecah berhamburan.. Bagai kapal yang berlayar terlupa darat, pelabuhan dingin pada diriku tercermin lusuh. Heran. Rusak hati rusak jiwa, petakalah semesta hari. Sukmaku riuh dalam tanya, ada rahasia di balik rahasia.


Merambat tengah malam aku masih diperaduan, hujan mengasuhnya dalam dingin. Ingin kutulis rasa dalam sobekan-sobekan daun jati, dialirkan ke semesta hari supaya ia dapat mengerti. Cinta itu apa? Sumpah serapah serupa aku.


 Mataku memerah karena lelah, karena tangis, karena rindu serupa aku. Kututup sajalah semua peristiwa tanpa meninggalkan jejak kemarau lama yang membuat hatiku menggelepar dalam jiwa-jiwa yang terbakar.