Category Archives: Travelling

Siti Nurbaya, Lemang, Nasi Kapau, dan Wisata Padang yang Rancak Bana

Kita kerapkali berdialog dengan semesta yang semakin tua. Namun, kumparan pikiran kita justru kerapkali baru. Menciptakan sebuah pertanyaan atau sekedar mempertanyakan hal-hal yang menarik untuk membuat hidup kita kembali semakin asik dan menyerap hal-hal baik lebih banyak.

Kekasihku wahai Syamsul Bahri, Siti Nurbayamu hendak keliling Kota Padang dalam sebuah tulisan.

Jika kasih kita tak sampai, kalian bacalah tulisan uni, masa tak jua merasa tertarik menjejakkan kaki ke Padang?

Oh amboi.. Kota Padang rancak bana uda…

Apa yang sudah kita berikan, kalimat sederhana yang seringkali lupa kita tanyakan pada diri sendiri, sebelum menanyakan apa yang sudah semesta berikan pada kita selama udara masih dapat kita hirup puas-puas.

Semesta bagian mana yang sudah kalian kunjungi?

Laut? Pantai? Gunung? Hutan?

Sendirian atau dengan sekelompok orang?

Kamu, sudah pernah ke Padang?

Nasi Kapau
Nasi Kapau

Keelokan padang sudah pernah saya jamah ketika diundang dalam event tertentu saat menang dalam blog competition serupa, keindahan alam yang berbukit dan berbatasan langsung dengan laut membuat saya merindukan kota Padang kembali. Bersantap makan siang dengan dentingan pemusik jalanan yang memperdengarkan alunan dari tembang-tembang minang, berpadu dengan dentangan piring-piring kuah gulai, sambal, dan aneka lauk-pauk yang menggugah selera pengunjung di Nasi Kapau Los Lambuang Pasa Lereng, yang saya harapkan dapat menjadi pasar wisata kuliner bagi masyarakat. Kebetulan saya kesana, sempat juga mampir untuk mencicipi santap siang di nasi kapau Ni Er yang memang sudah terkenal dengan kelezatannya sampai ke telinga petinggi seperti Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, Irwan Prayitno, para mentri  yang singgah ke Sumbar dan beberapa artis seperti Nurul Arifin, Iis dahlia dan masih banyak lagi yang sempat menyantap Nasi kapau Ni Er saat usai kampanye di Bukit Tinggi. Tak hanya itu, Nasi Kapau Ni Er juga terdengar sampai di telinga para wisatawan mancanegara dan  masyarakat pendatang, hal ini saya dengar ketika berbincang dengan masyarakat lokal di sana usai kenyang mencicipi gulai tambusu.

Ngarai Sianok

Pesona Indonesia tak akan habis kita menceritakannya dalam sehari, keeksotikan dan ragam budaya Indonesia akan mampu membuat mulut berbusa dan jari jemari kalian akan keriting jika bersikeras menceritakan semuanya. Wisata Padang khususnya, akan banyak kita temui keindahan alam di Padang yang membuat kalian menginginkannya untuk terbang dan menginjakkan kaki di tanah minang ini.

Selain pantai, laut dan gunung saya juga mencintai museum, entah sudah berapa tulisan yang saya ulas mengenai museum. Kalian bisa mengunjungi Museum Aditya Warwan yang merupakan Taman Mini-nya Kota Padang dan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Untuk Pantai sendiri, kalian dapat mengunjungi Pantai Aie manih, Pantai Nirwana, Pantai Pasir Jambak, Lembah Anai, Sitinjau Lauik, Jembatan Siti Nurbaya dll.

Nah kali ini saya akan mengajak kalian untuk melihat-lihat wisata yang pernah saya kunjungi antara lain:

Jam Gadang

 

foto by: Ikhwan Arief
foto by: Ikhwan Arief

Rasanya, belum sampai ke Padang jika tidak mengunjungi landmark-nya dari Kota Bukit Tinggi ini. Lokasinya juga tidak jauh dari Pasa Lereng Los Lambuang. Daerah Bukit Tinggi banyak spot wisata keren yang kalian mampu kunjungi dengan sekali jalan hingga menghemat waktu dan biaya. Panorama Ngarai Sianok yang terbentang dapat kita lihat juga dari sini sekaligus bersentuhan langsung ke Lubang Jepang. Bangunan jam Gadang memiliki desain yang serupa dengan bangunan bergaya khas Eropa di zaman kolonial. Beberapa tulisan sejarah mencatat tugu Jam Gadang dibangun tahun 1826 setelah Ratu Belanda menghadiahi mesin jam ini kepada Controleur  atau Sekretaris Kota Bukittinggi waktu itu, Rook Maker. Waktu yang paling tepat ke sini adalah pagi, sore dan malam hari. Sehingga matahari sengat cahayanya tidak membuat kita kepanasan.

Ngarai Sianok

ngarai sianok
Ngarai Sianok

Kontur alam yang tersaji alami membuat kita mengagumi pahatan alam yang disuguhkan oleh Maha Pencipta, pemandangan dari sebuah lembah sempit yang dikelilingi oleh bukit-bukit bertebing curam dihiasi dengan aliran sungai kecil di tengahnya. Lembah Sianok terbentuk karena proses turunnya sebagian lempengan bumi, sehingga menimbulkan patahan berwujud jurang yang curam. Membuat keindahan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan termasuk saya, yang berkali-kali berdecak kagum melihatnya.

Ngarai Sianok

Saya sempat naik ka atas bukit dengan banyaknya anak tangga sebagai perjuangan untuk melihat Ngarai Sianok lebih luas lagi dari ketinggian. Kelelahan selalu saja terbayar dengan hamparan lembah yang mungkin tak semua orang juga dapat melihatnya secara langsung.

Kamu, pecinta fotografi rasanya harus kesini.

Ngarai Sianok membentang sejauh 15 km dari sisi selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Enam Suku, dengan kedalaman tebing mencapai 100 meter dan lebar celah sekitar 200 meter. Patahan di Sianok ini merupakan bagian dari Patahan (Sesar) Semangko yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Sesar Semangko sendiri merupakan lokasi patahan yang membentuk Pegunungan Bukit Barisan.

Ah, udara yang bersih dan keindahan alam yang tersaji di depan mata, masyarakat lokal dan guide yang ramah, tetesan gerimis hujan selalu berhasil membuat saya merindukan hal-hal yang lain dan kelak akan merindukan Ngarai ini kembali.

Lubang Jepang

Lubang Jepang
Para Blogger Mengabadikan Lorong di Lubang                                         Jepang

 

Lubang Jepang

Wisata Lubang Jepang juga tidak kalah menariknya nih guys, kita hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk jalan kaki sampai ke sini. Kamu akan dipandu untuk melihat dan mendengar sejarahnya, ada beberapa spot foto keren yang pantas kamu abadikan dan lorong yang di tutup karena keselamatan pengunjung adalah hal yang paling utama. Saya sempat menyayangkan beberapa dinding yang digores oleh jejak tulisan pengunjung yang sama sekali tidak menghargai sejarah dan alay yang setingkat dewa. Serta beberapa retakan dari langit-langit lubang jepang karena sempat terjadinya gempa dan puing-puing dari bangunan yang runtuh.

Pada lorong Lubang Jepang yang dibuka hanya kurang dari 1,5 kilometer sehingga hanya membutuhkan paling lama 20 menit untuk sampai di ujung jalan. Sedangkan lubang yang mengarah ke Ngarai diberi teralis. “Ada 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam, ada yang sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan serta penjara. Namun yang menyeramkan adalah ruang dapur yang juga difungsikan untuk memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah”  Saya sempat mengabadikan moment untuk berfoto di ruang dapur dan melongok ke arah lubang air yang memang ada di bagian bawah ujung kiri dapur. Dan diatas juga terdapat lubang yang diberi teralis yang berfungsi sebagai menara pengintai.

Lubang jepang

Suasana lembab lebih terasa di sini dan di dekat ruang penjara, yang oleh petugas di sana kita tidak diijinkan untuk foto bertiga di lokasi itu. Karena satu atau lain hal agar tidak ada kejadian ganjil yang kelak hadir di sana. Sebab, entah sudah berapa ribu orang yang tewas dalam pembangunan lubang Jepang ini.

Lubang ini dibuat atas instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Konon menurut sejarahnya mampu menahan letusan bom seberat 500 kg. Konstruksi lubang ini dikerjakan sejak Maret 1944 dan selesai pada awal Juni 1944 dengan total pembuatan selama kurang lebih 3 tahun dengan kedalaman mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah.

Jadi sebagai pecinta dan pengagum sejarah, Lubang Jepang adalah wisata yang patut untuk kalian kunjungi. Agar kita, kerapkali mencintai dan tak melupakan sejarah.

Istano Basa Pagaruyung

istana-basa-pagaruyung

Bangunan megah yang membuat saya berkali-kali menekan tombol di kamera slr yang setia menemani  kemana-mana. Bangunan ini berlokasi di Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat, Padang. Istano Basa Pagaruyung adalah bangunan rumah tempat tinggal raja sekaligus tempat raja menjalankan pemerintahan. Jika ditelisik lebih dalam, rupanya Istano Basa Pagaruyung sekarang merupakan replika atau duplikat dari istano yang dibakar oleh Belanda tahun 1804. Pada tahun 1976 Istano Basa Pagaruyung dibangun kembali yang lahir dari pemikiran pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat Sumatera Barat dalam rangka melestarikan nilai-nilai adat, seni dan budaya serta sejarah Minangkabau.

Pakaian Minang

Saya sempat memakai pakaian minang yang kerapkali disewakan di sana. Berada di bawah bangunan yang lengkap dengan semua atribut pelengkap dan berfoto puas di sana.Istano Basa Pagaruyung merupakan objek wisata primadona di Kabupaten Tanah Datar khususnya, dan Sumatera Barat pada umumnya. Foto-foto yang apik akan kalian dapat di Istano Basa Pagaruyung sebab bangunan ini terdiri dari 3 ( tiga ) lantai, 72 tonggak serta 11 gonjong. Dilihat dari segi arsitekturnya bangunan Istano Basa Pagaruyung mempunyai ciri-ciri khas dibandingkan dengan bangunan Rumah Gadang yang terdapat di Minangkabau. Kekhasan yang dimiliki bangunan ini tersirat dari bentuk fisik bangunan yang dilengkapi ukiran falsafah dan budaya Minangkabau. Istano Basa Pagaruyung dilengkapi dengan Surau, Tabuah Larangan, Rangkiang Patah Sambilan, Tanjung Mamutuih dan Pincuran Tujuah.

Jajanan khas di sana, ada Lamang. Sebab, lamang sangat identik dengan ranah minang. Berupa beras pulut dan dimasak dengan santan dalam bungkus pucuk daun pisang dengan cara dibakar ini membuat khas rasa dan wanginya berbeda dari jajanan pasar yang lain. Ada beberapa jenis lamang, antara lain: Lamang tapai, lamang baluo, lamang pisang, lamang kanji, lamang kundua. Namun yang paling diminati adalah lamang yang terbuat dari ketan putih. Bisa disajikan tersendiri, atau dengan tapai, bisa juga dimakan dengan rendang atau pisang.

Semakin banyak perjalanan mengunjungi wisata negeri sendiri, maka semakin banyak budaya dan tradisi yang patut kalian tulis untuk dapat melestarikan budaya para tetua, mencintai adat, dan masuk menjadi bagian dari masyarakat yang kerapkali mempertahankan kearifan lokal di satu daerah.

Pembahasan wisata dan pesona Indonesia saat ini saya rasa sedang melonjak tajam. Bukti nyata dari pemerintah daerah dalam menaikkan sektor di bidang wisata dan memajukan daerahnya masing-masing adalah dengan menyelenggarakan beberapa festival, seperti Festival Siti Nurbaya 2016.

Tulisan saya berikutnya akan memunculkan sensasi mengagumkan dari perhelatan Festival Siti Nurbaya 2016 yang kelak diharapkan menjadi ikon event budaya padang pada tanggal 7-10 September di Kota Padang.

Cintailah adat, budaya, wisata negeri dan mari ke Padang!

*Diikutsertakan dalam Lomba Blog Festival Siti Nurbaya 2016

 

Dessy Achieriny

Karena Jawa Tengah Istimewa “Jateng Gayeng”

Ketika kau bangun di pagi hari, jika tak ada secangkir kopi dan lembar roti. Berjanjilah pada diri sendiri untuk tetap melangkah berbagi kebahagiaan. Agar kita kerapkali merayakan sebuah ikatan, mengenai cinta antar sesama, dalam perbuatan, tulisan dan pandangan kita.

Hampir setengah jam saya meneguk secangkir kopi pelan-pelan sendirian, membuka lembar buku dan percakapan kemarin untuk segera ditulis mengenai pesona wisata Jawa Tengah. Semangat “Jateng Gayeng”  sebuah slogan yang kerapkali dijadikan kata penyemangat bagi daerah Jawa Tengah yang berarti berani, tangguh, jujur, ramah, menggembirakan, harmonis, dan hangat, untuk mempromosikan dan memasarkan berbagai potensi, agar masyarakat Jawa Tengah tetap “Njawani”. Hampir semua konten tulisan dalam Karendis mendukung Indonesia menjadi Pariwisata unggulan, yang kelak dapat disejajarkan dengan pesona yang ditawarkan negara lain, sebab Indonesia menempati posisi 10 “Best countries for solo travelers” Travel + Leisure 2016. Pemilihan ini berdasarkan penduduk yang dengan bahagia, memiliki keramahan menyambut dan berinteraksi dengan wisatawan.

Celotehan Aditya Susanto dalam sebuah obrolan ringan membuka saya untuk mencintai pesona wisata yang ada di Jawa Tengah dan semuanya. Saya memulai tulisan ini, dengan alunan musik lembut di telinga.

Bukankah sebuah perjalanan menulis tanpa musik, seperti kumpulan kata tanpa tanda baca; titik dan koma?

Semoga ditiap langkah dan perbuatan baik, Tuhan selalu menghindarkan kita dari kejenuhan.

Karena Jawa Tengah Istimewa
Masjid Agung Demak, pict dari sini

Saya akan menarik kalian menyelami kota Demak sebentar, sebab kota Demak terkenal dengan daerah wali songo, warisan masjid Agung Demak dan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Lebih mengarah kepada pusat sejarah penyebaran agama Islam di sana. Di Masjid Agung demak sendiri, selain terdapat museum tentang wali songo juga terdapat makam raja-raja terdahulu seperti Raden Patah, Pati Unus dan Sultan trenggana. Lokasinya berada di alun-alun kota demak, dekat dengan kantor Bupati Demak.

Kalian dapat keuntungan dua sekaligus jika melangkahkan kaki kesana, yakni berwisata dan menggali sejarah religi sekaligus. Untuk akses transportasi darat kalian tidak perlu khawatir, karena jalan raya sudah diaspal mulus, sebab rutenya sering dilalui kendaraan saat jalur mudik (Jalur pantura ke Surabaya) di Masjid Agung Demak sendiri, selain ada museum kalian bisa menyempatkan waktu untuk berziarah ke Makam Sunan Kalijaga.

Tidak ada upacara unik di Demak, karena budaya keislaman yang kental maka hanya ada perayaan agama saja yang disambut meriah oleh masyarakat dan beberapa kalangan yang memang sengaja melihat tradisi yang kerapkali dilakukan setiap tahunnya. Seperti malam takbiran ada pawai dan konvoi, ada juga tradisi besaran atau grebeg besar yaitu budaya tradisional khas kota Demak, biasanya diadakan arak-arakan, karnaval kirap budaya, barongsai dari mulai pendopo sampai makam Sunan Kalijaga. Sebuah tradisi yang mencerminkan kerukunan beragama berjalan baik dan beriringan di daerah Demak. Acaranya berlangsung pada saat hari raya Idul Adha.

Karena Jawa Tengah Istimewa
Wisata Alam Hutan Mangrove pict dari sini

Sekitar 20 Km dari pusat Kota Demak, terdapat wisata alam Hutan Mangrove di daerah Sayung Demak. Tepatnya lebih ke arah utara dekat dengan pantai. Wisata alam hutan mangrove ini, lebih ke arah wisata bahari karena letaknya dekat dengan Pantai Morosari, disana juga ada pulau burung. Kalian akan dimanjakan dengan pemandangan ribuan burung bangau putih. Morosari merupakan nama sebuah dusun yang terletak di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, provinsi Jawa Tengah. Persisnya dari jalan Raya Semarang Demak Km. 9. Di sana, kalian bisa menyewa perahu dan speedboat. Hanya dengan merogoh kocek 15 ribu perorang jika naik speed boat dan 150 ribu jika hendak carter perahu per-Trip. Murah kan?

Karena Jawa Tengah Istimewa
Hutan Mangrove Morosari

Pesona alam bagi pecinta fotografi sendiri akan ada banyak spot bagus disana, seperti resto terapung yang kanan kirinya berbaris rapih pohon mangrove yang rimbun, ada pulau burung, pantai yang bersih karena jarang dikunjungi sehingga habitat dan keasrian disana masih tetap terjaga apik. Lokasi disana ramai hanya ketika ada acara berlangsung saja, hari-hari biasa kalian akan mendapatkan sensasi suasana yang sejuk, adem dan eksklusif. Apalagi dengan tiket masuk pantai yang hanya 5 ribu perorang. Kemudian sewa perahu pulang pergi untuk diantarkan ke Hutan Mangrove, karena posisinya sekitar 30 menit untuk sampai kesana. Pengunjung akan dihadiahkan suara burung yang bersahut-sahutan, yang didominasi oleh burung kuntul dan burung blekok.

Karena Jawa Tengah Istimewa
Pantai Morosari pict dari sini

Uniknya, di pantai Morosari itu, ketika hari raya lebaran selalu diadakan lomba perahu dayung dan tradisi syawalan atau tradisi larung sesaji laut. Sebab masyarakat di sana percaya khususnya nelayan, bahwa dengan memberikan sesaji ke laut akan mendatangkan berkah. Berisi nasi tumpeng, hasil bumi, dan hasil laut para nelayan. Tujuannya diadakan tradisi tiap tahun adalah untuk bersyukur pada Tuhan atas hasil tangkapan ikan, dengan melakukan tasyakuran yang dihadiri oleh bupati dan pejabat polisi, lalu mengarak sesaji keliling kampung kemudian sesaji dilarung atau dihanyutkan ke tengah laut. Tradisi di atas dilaksanakan oleh masyarakat nelayan sekitar Margolinduk, Purworejo, dan Morodemak, (wilayah Demak Jawa Tengah) berserta Muspida dan sejumlah ‘ulama’ setempat.

Setiap tempat memiliki rahasia alam yang beragam, dari bentangan rumput yang luas, gunung tinggi yang menjulang, air laut yang sebiru warna langit pagi hari, pantai pasir seputih pualam, juga hamparan bunga yang menjadi lanskap warna-warni. Kali ini pemerintah daerah Jawa Tengah sedang giat berkolaborasi dengan masyarakat dan pihak swasta untuk berperan aktif dalam mengembangkan pariwisata. Contoh nyata kegiatan yang mereka ambil adalah dengan menggelar event, festival atau tradisi lokal yang diangkat ke permukaan, bertujuan untuk mendatangkan para wisatawan baik itu lokal maupun asing, agar terus bertambah dengan durasi kunjungan semakin panjang. Saya sendiri bahkan baru selesai mengunjungi festival wisata seperti ini, lalu ikut berceloteh dan menggaungkan bahwa pesona Indonesia tak kalah hebatnya di mata dunia.

Curug Lawe sumber disini
Curug Lawe, pict dari sini

Jawa Tengah termasuk daerah istimewa yang kaya akan wisata juga ragam kain batiknya, untuk menjelajah daerah wisata yang memiliki pemandangan alam yang spektakuler kalian bisa mengunjungi Goa Kiskendo di Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, ada juga Curug Sewu di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal0, Desa kampung Djowo Sekatul (Desa Mergosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal), Air Terjun Semirang (Desa Gogik Kabupaten Ungaran), Curug Lawe (setelah pemandian air panas Nglimut) Gono Harjo, Boja Kabupaten Kendal, Hutan wisata Penggaron (Desa susukan, Kecamatan Ungaran, Kabupaten Ungaran) dan masih banyak lagi yang kelak akan memenuhi list liburan kamu.

Karena hidup punya banyak cerita dan kita adalah anak Indonesia. Kalian tahu, partikel-partikel rasa syukur akan kalian terima sebagai berkah dalam tiap perjalanan. Bagaimana caranya menghidupkan kemandirian, keberanian, menyelesaikan kesulitan, semangat dalam mengungkap sesuatu, mendongak lebih tinggi dari garis pencapaian, bertatap muka sebagai kawan dan menghilangkan gelar musuh di perjalanan.

Kamu cinta Indonesia?

Gemakan Wisata Jawa Tengah, mulai sekarang!

 

 

Dessy Achieriny

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tenga

Pesona Karimun Dalam Kacamata Traveller

Pesona Karimun
Pesona Karimun

Entah, seolah tempat yang saya kunjungi selalu hidup dan bernyawa, ia membisikkan banyak hal tentang arti penting dari sebuah perjalanan, mengulang puji-pujian istimewa serta kehangatan khas Indonesia dangan tutur dan adat melayu yang kental. Hasil jepretan kamera di tiap lokasi bahkan sepuitis ini, alasan-alasan klise mengenai rindu kian menetap dan lekat. Hingga kata jalan-jalan seolah lengkap terpatri menjadi sebuah harta dari banyak ingatan.

Tanjung Balai Karimun sebenarnya pulau kecil yang tak lebih luas dari jidat orang dewasa. Selain dari penduduk melayu asli di sini, kita akan sering menjumpai etnis Tionghoa. Saya membuka buku kumal dan merobeknya untuk menggoreskan pena sekedar menulis beberapa catatan penting kegiatan perjalanan, sebab ingatan tak penuh menyimpan hal-hal panjang. Cappucino, alunan lagu pop lost Boy, dan beberapa ingatan yang dipelintir membuat saya menindih ulang catatan hari ini dan membuka tulisan singkat kemarin dalam draft.

Coastal Area
coastal area

Mendeskripsikan Tanjung Balai Karimun maka tak lengkap jika kita tidak mengunjungi Coastal Area sebagai Icon Karimun. Kawasan wisata Coastal Area yang dibangun pada tahun 2008 lalu, adalah salah satu tempat wisata yang menjadi kebanggaan  bagi masyarakat Kabupaten Karimun. Bahkan objek wisata ini menjadi icon negeri berazam, iman, dan taqwa tersebut. Jika melihat struktur bangunan di Coastal Area ini, pengunjung seperti diajak mengelilingi negara kincir angin, Belanda. Dimana terdapat empat tugu besar, yang  menggambarkan Kabupaten Karimun merupakan kabupaten yang kokoh dengan budaya dan agama. Fasilitas bermain dan aneka kuliner banyak kita temui di sana, dengan pemandangan menghadap laut di penghujungnya. Saya sempat mengabadikan moment matahari terbit, terbenam, dan juga bermain bersama kepak burung dara. Potret siluet yang menghantarkan kita ke dalam bingkai lukisan. Tak jauh dari Coastal Area kita dapat melihat Tugu Al-qur’an yang kokoh dengan cahaya warna-warni jika malam tiba.

Pantai Pelawan
Pantai Pelawan

Pantai Pelawan pun termasuk dalam list kegiatan kami ketika ke sini, terletak di Pangke, Meral, Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Tanjung Balai Karimun adalah ibu kota kabupaten Karimun di provinsi Kepulauan Riau. Tanjung Balai ini berada di bagian tenggara dari pulau Karimun dan secara keseluruhan merupakan bagian dari wilayah perdagangan bebas (free trade zone) BBK (Batam-Bintan-Karimun) yang cukup strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional di sebelah barat Singapura. Pantai yang berbentuk bulan sabit dengan beragam saung berdiri kokoh di bibir pantai. Spot yang paling menarik di Pantai Pelawan adalah bebatuan dan pohon bakau diujung sabit pantai. Bebatuan besar yang hampir mirip di daerah Bangka Belitung pulaunya Laskar Pelangi. Suasana keseruan kian pecah ketika kami menyewa banana boats seharga 150 rb untuk kapasitas 6 orang. Langit biru, desir angin dan kesegaran es kelapa muda membuat kami menikmati keindahan pulau nan eksotik ini terasa lengkap.Walaupun harus pulang membawa kesakitan karena tertindih badan orang belakang saat naik Banana Boats dan ke minum asinnya air laut.

wisata pelawan
Wisata Pelawan
Pantai Ponkart
Pantai Ponkart

Destinasi kedua kami adalah Pantai Ponkar, pemandangan pantai ponkar lebih lepas daripada di Pantai Pelawan, Laut di Pantai Pelawan lebih landai sedangkan Pantai Ponkar lebih curam. Di sini saya rasa lebih cocok untuk bermain Volly pantai, main bola dan pasir pantai. Hanya saja spot bebatuan dan pohon bakau tidak kita temui di pantai ini. Pantai Ponkar berada di desa ponkar, kecamatan Tebing Kabupaten Karimun. Spot motret yang keren adalah pemandangan gugusan Pulau Karimun Anak dan Takong Hiu. Pantai Pongkar memiliki hamparan pantai yang luas dan alami dengan pohon cemara yang berbaris rapih tersebar di sekitar wilayah pantai. Di sekitar lokasi juga terdapat danau kecil yang kaya akan ikan. Banyak pengunjung memanfaatkan danau tersebut untuk memancing. Di atas danau tersebut, didirikan sebuah panggung dengan arsitektur Melayu yang digunakan untuk beragam kegiatan kesenian. Biasanya, panggung ini juga digunakan untuk sejumlah kegiatan yang berlangsung saat malam pergantian tahun.

Air Terjun Ponkar
Air Terjun Ponkar

Para laskar dan generasi hijau akan menyukai perjalanan ke Air Terjun Pongkar, kiri kanan pemandangan disuguhkan hijaunya hutan, pohon-pohon besar, aliran sungai dengan anak-anak ikan, namun debit airnya tak sebanding dengan namanya, 2 tahun lalu airnya seperti meleleh, tahun ini kami lebih beruntung, sebab satu hari sebelum kami ke Air terjun pongkar  hujan deras, jadi debit air lumayan mengalir. Air terjun pongkar adalah wisata alternatif jika kita bosan ke pantai. Selain sebagai sarana rekreasi, taman wisata ini juga diperuntukkan sebagai hutan lindung. Di sepanjang jalan menuju air terjun terdapat pohon-pohon langka seperti pohon Beluka dan Pulai. Perjalanan menuju tempat wisata air terjun berkelok-berkelok dengan pemandangan hamparan bukit. Sesekali saya berhenti untuk motret dan mengambil video. Setibanya disana, tidak ada tanda-tanda keberadaan objek wisata ditempat ini, hanya tempat parkir berupa lahan kosong dan beberapa warung sederhana semacam kedai kopi. Untuk masuk ke loket air terjun, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 200 meter dari parkiran. Perjalanan yang tidak begitu jauh, jika kita bandingkan saat mendaki Curug Cibeurem – Gunung Gede. Di bawah air terjun kita akan melihat 2 buah kolam besar sebagai tempat untuk berendam dan berenang.

Pelabuhan Pelambong
Pelabuhan Pelambong

Kami juga sempat menikmati keindahan Pelabuhan Pelambong sebagai pelabuhan bongkar muat dan melihat beberapa kapal-kapal nelayan di sana, jembatan yang terbuat dari kayu seakan bergoyang mengikuti langkah jejak kaki kami, saya sempat memotret para nelayan yang hendak pergi mencari udang.

Jika ke karimun kalian tak akan lengkap jika tak mampir ke Pulau Buru, sebenar-benarnya Indonesia ada di sana “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang. Patah tumbuh hilang berganti. Takkan melayu hilang di bumi.”

Pelabuhan Sri Tanjung Gelam
Pelabuhan Sri Tanjung Gelam

Di sana kau akan memutuskan berjalan untuk menggali sejarah. Melewati setapak di tengah hutan, menyeberang laut, menyapa desa yang penduduknya menjerit menginginkan air bersih, melompati genangan lumpur dan kubangan air, mengintip adat para tetua, dan menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan.

Kebanyakan kita hanya ingin dikenang sebagai pejalan, kemudian pulang tanpa beban, mengumpulkan potret keadaan dalam lensa dan tips menaklukkan alam. Sampai kita lupa mengemas banyak cerita mengenai kearifan lokal yang masih lekat tertanam.

Melewati Perkebunan kelapa Sawit
Melewati Perkebunan kelapa Sawit

Kami memutuskan pergi ke Pulau Buru melalui Pelabuhan Sri Tanjung Gelam yang berada di Tanjung Balai Karimun. Kapal pompong Karomah dengan gagahnya membawa kami ke sana dengan membeli tiket per-orang 19 ribu rupiah dan pass masuk pelabuhan seharga seribu lima ratus. Kami transit dulu ke Pelabuhan Tanjung Batu Kecil, Desa Pelaka Kecamatan Buru dan bertamu ke rumah kepala dusun, Pak Usman. Di sini, rupanya listrik baru masuk selama 4 bulan ini. Mereka menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang berada di dekat perkebunan kelapa sawit. Setiap kepala keluarga dibatasi pemakaian listrik perhari dan dikenakan biaya 40 rb sebulan.

Ah, jelajah nusantara menciptakan banyak kebahagiaan. Di sini, kampung nelayan, warga melayu, etnis Tionghoa, jawa, sunda, melebur menjadi satu dalam wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Hal terasik dalam perjalanan adalah bagaimana kita menemukan kata-kata dengan cara mengingat kembali. Ketika jemari, kepul kopi cappucino, dan sebuah ide – Bahwa perjalanan panjang tak pernah usai, tulisan adalah cara kita mengingat untuk melompat lebih jauh.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

Junjung Adat Tegakkan Marwah

kakek
Foto kakek bersama Bupati Karimun (Aunnur Rafiq)
Saya banyak mengetahui mengenai adat istiadat, sejarah dan bagaimana perkembangan Karimun sejak dulu, dari sebelum dan setelah otonomi daerah oleh kakek (panggilan saya untuk mertua).
 
Kakek (Achmad Djambi – 74 Thn) adalah pensiunan Bea Cukai, Ketua Perkumpulan Haji tahun 2012, Anggota pengurus IPHI Karimun (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia), Calon Ketua Veteran Karimun, Wakil Ketua Lembaga Adat Melayu atau lebih dikenal dengan istilah LAM yang menjabat 2 Periode sejak tahun 2010-2015 & 2015-2020 dan diberi gelar Datuk Timbalan Setia Adat.
 
Di Karimun sendiri, Ketua Pembina Lembaga Adat Melayu diberikan gelar Datuk Setia Amanah. Sedangkan gelar Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) dijuluki Datuk Setia Adat, ujar kakek menjelaskan kepada saya diseling dengan canda tawa dan sedikit gurauan yang memecah keseriusan siang tadi.
 
Kegiatan dari Lembaga Adat Melayu sendiri amatlah beragam, diantaranya mengatur adat istiadat melayu sebagai mitra pemerintah dan menggali cagar budaya. Menggali, Membina dan Mengembangkan Adat dan Budaya di dalam Daerah Provinsi Kepulauan Riau yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan Pancasila sebagai azaz Negara Republik Indonesia. Menanamkan dan memperluas pengetahuan masyarakat Melayu terhadap Adat dan Budaya Melayu Kepulauan Riau dalam membentuk generasi penerus dll.
 
Langkah pasti lainnya yaitu ketika ada pembangunan di wilayah Karimun maka harus ada konfirmasi terkait juga dengan Lembaga Adat Melayu agar tidak menenggelamkan adat istiadat yang ada.
 
Pasar Puan Maimun
Pasar Puan Maimun
Nah, kali ini pagi-pagi sekali saya menuju ke Pasar Puan Maimun, pasar 3 lantai ini berdiri kokoh berada di daerah kolong. Dulu pasar di daerah sekitaran kecamatan karimun, berada di daerah Puakang, sekarang pindah ke Pasar Puan Maimun.
 
Pasar di sini penuh dengan aneka ikan laut yang beragam dan segar. Wajar saja karena daerah kepulauan, maka harga ikan dan aneka seafood lebih murah dan lebih banyak dari daerah kami di Bekasi.
 
Menurut berita yang dilansir dari Karimun sendiri, Perusahaan Daerah (Perusda) Karimun telah mengambil alih pengelolaan Pasar Puan Maimun Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, yang sejak selesai dibangun dikelola Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan.
 
mie lendir
mie lendir
Orang-orang ke pasar Puan Maimun sibuk belanja aneka sayur dan ikan, saya sibuk foto-foto untuk memperkenalkan kepada kalian semua pelosok daerah di sini. Lantai bawah di isi oleh para pedagang ikan, ayam, dan macam-macam lauk pauk. Sedangkan lantai 2 di isi oleh aneka penjual sayur mayur. Dan seperti pasar tradisional yang dikemas menjadi pasar modern lainnya, seperti biasa lantai 3 digunakan untuk food court.
 
Puas saya berkeliling pasar Maimun langkah kaki mengajak saya kemudian menuju ke Kedai Sinergi di daerah jalan Teuku Umar untuk sarapan Mie Lendir dan Nasi Lemak.
 
Mie lendir ini adalah makanan khas karimun, isinya perpaduan mie lidi, touge dan telur disiram bumbu kacang yang kental. Kenikmatan yang kita cicipi hanya ditukar dengan merogoh kocek 10 ribu rupiah per porsi.
 
Coastal Area
Coastal Area
Baliknya kami memutar arah mengelilingi Coastal Area dan Teluk Air. Ketika sore tiba kami berencana akan mengunjungi daerah Puakang untuk melihat ikan-ikan yang baru saja habis ditangkap nelayan dan dijajakan. Sedangkan keesokan harinya kita akan mengupas habis keindahan Pantai Pelawan.
 
Bukankah langkah kaki dirancang untuk selalu berjalan? Sedangkan mata digunakan untuk melihat lebih panjang?
Lalu hati?
Kita gunakan untuk menyelami hal baik dari apa yang terlihat saat tapak kaki berjalan dan berhenti.
Dessy, Karimun