Category Archives: Tulisan

Berenang Dalam Kehidupan Anak-Anak

Menyelami kehidupan anak-anak…
 
Dunia orang dewasa dan dunia anak-anak itu berbeda.
 
Anak-anak punya dunia mereka sendiri. Mereka merasa asik untuk membayangkan hal-hal yang paling menarik perhatian, melalui pikiran, khayalan yang ada di kepala mereka, walau pun itu belum tentu baik. Kelak peran kita nanti sebagai orangtua yang akan diuji untuk membenahi sebuah kesalahan. Mereka akan merasa nyaman bicara banyak hal ketika menganggap bahwa kita sepaham dan mengerti apa yang mereka bicarakan.

Continue reading… →

Mencegah Bullying Dengan Kecerdasan Emosional

Menyingkapi kasus bullying mahasiswa difabel di Universitas Gunadarma menjadi tamparan keras bagi generasi muda lain yang hendak dan akan melakukan hal yang sama.

Dengan begini, semoga kesalahan kemarin mampu mendorong mereka menjadi pribadi yang lebih baik di hari ke depan tanpa harus gantian dengan adanya kasus bullying lanjutan, sebab tidak semua mahasiswa Gunadarma memiliki perilaku yang sama. Masih ada Lutfi Ali salah satu Mahasiswa Gunadarma yang tahun ini menjuarai Catur Mongolia Open serta masih banyak Mahasiswa gemilang lainnya yang tak terekspose.

Bullying tidak bisa dianggap remeh, karena dampaknya meninggalkan bekas luka yang tidak dapat terhapus di kehidupan baik itu anak-anak, remaja, hingga dewasa. Ada beberapa jenis bullying, ada yang termasuk pack intimidasi, intimidasi individu, intimidasi fisik dan emosional. Intimidasi emosional seperti penghinaan, merubah nama panggilan dll. Hal yang berawal dengan mengganggap ejekan teman yang sepele, menjadi kebiasaan, berlebihan dan kebablasan.

Dulu, saya sering diejek karena perawakan badan saya yang kecil, “Heh bocil (Bocah Kecil) ngapain sekolah di sini lu, pantesnya sekolah TK.” Awal-awal rada empet bin enek sih dengernya, untungnya saya termasuk tipikal orang yang mau dikatain kaya apa juga, cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Anak saya juga pernah cerita dan ngalamin hal yang sama. Mencegah bullying juga bisa dengan menanamkan kecerdasan emosional.

Pelajaran untuk stop bullying kalian bisa tonton di film Before I Fall. Film ini buat saya pribadi memberikan gambaran dan petikan yang mengubah mindset hidup kita untuk lebih positif. Bahwa hidup dari bangun tidur seharusnya memberikan banyak hal untuk menyenangkan orang lain, bukan sebaliknya.

Sebanyak apa pun hal-hal yang kita lakukan jika dikalikan nol maka hasilnya akan nol. Maka kita harus mencari angka satu untuk menyempurnakan apa yang kita kerjakan, satu itu adalah Tuhan.

Kecerdasan emosional adalah bagaimana cara kita menanamkan pembelajaran akidah, iman, agama. Belajar tanpa akidah yang benar akan beresiko menjadikan jiwa-jiwa yang miskin empati, tidak memiliki rasa belas kasihan sehingga tumbuh menjamurnya degradasi moral. Pendidikan tanpa adanya kecerdasan emosional hanya akan memberikan celah sistem pendidikan, seperti petikan yang kerapkali kita dengar bahwa “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali.”

Hakikinya, senyum dan tawa keluar dari hati yang bersih dan penuh syukur, paling tidak mampu memiliki ideologi yang memberikan ketenangan dan kedamaian hidup, baik itu dengan cara menertawakan kesedihan dan kesusahan diri sendiri, sehingga semua hal dianggap gembira melalui hal-hal sederhana dalam sebuah candaan ringan sehari-hari, bukan sebaliknya. Sibuk menertawakan kesedihan dan kesusahan orang lain.

Setiap hal yang kita lakukan selalu saja ingat bahwa apa yang kita lakukan akan kembali ke diri kita sendiri, sebab kita diciptakan Tuhan untuk belajar “Pandai Merasa” bukan “Merasa Pandai”. Dua kata yang sama ketika dibalik maka arti dan maknanya, akan menjadi jauh berbeda. Seperti petikan tulisan berikut;

“Aku adalah pemilik karmaku sendiri, mewarisi karmaku sendiri, lahir dari karmaku sendiri, berhubungan dengan karmaku sendiri. Apa pun yang aku lakukan baik maupun buruk, aku akan mewarisinya.”

Sebelum kita menjerit mengenai sistem pendidikan di luar rumah, maka setiap hari kita pasti akan menyadari betapa kotornya diri kita sehingga perlu membersihkannya dengan air yang mengalir, begitu juga hati, agar dapat mengasah pandainya rasa, menimbulkan rasa empati, maka katakan pada buah hati kita, bahwa hati juga harus seringkali kita bersihkan dengan merasa kecil di Mata Tuhan, sebagai kunci mengajarkan anak-anak untuk memahami kecerdasan emosional lebih dulu, di dalam keluarga.

 

 

dessyachieriny@yahoo.com

Cinta Tidak Sedangkal Itu, Sayang

Untuk siapa pun itu….

Kehidupan memang suka begitu, suka mengajak bercanda kita berlebihan. Ketika kita sudah mencintai dengan baik, tapi kerapkali tidak ditangkap dengan baik. Ketika kita sudah mencintai dengan baik, namun rupanya nasib yang tidak begitu baik. Jangan hanya karena sering bertemu dan nyaman. Kedua insan sibuk ikrar atas nama cinta.

Cinta tidak sedangkal itu, sayang. Cinta harus menyayangi seluruhnya, baik itu keluarganya, kampung halamannya, masa lalunya, lingkungan sekelilingnya, teman-temannya, dan kebaikan apa saja yang terjadi karena telah mencintainya.
 
Cinta butuh kejujuran bukan hanya saat diminta, tidak memerlukan kebaikan yang disengaja hanya untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dibuat kemarin.
 
Kita dapat menemukan orang-orang yang bersembunyi dari kesedihan dan mengingat secukupnya, sampai kemudian mereka tenggelam dalam kebaikan hujan, hanya untuk dapat terlihat baik di mana saja, sehingga kita pun pernah masuk ke dalam hal yang sama atau bahkan kita merasakan hal keduanya. Tentang kebahagiaan yang menutupi kesedihan atau kesedihan yang ditutupi kebahagiaan.
 
Cinta yang baik akan menaungi banyak hal, tentang merindukan pejam yang ramah, suara anak-anak bahagia, melangkahkan kaki yang jenjang dan berceloteh riang, berselimut hangat dari masing-masing tangan kita untuk melindungi orang-orang tersayang dari kedinginan dan hal-hal yang belum pasti dari sebuah ketakutan.
 
Cinta yang baik akan mampu menghilangkan kekecewaan. Jika kita bicara kecewa, maka akan berhadapan soal waktu untuk menyembuhkannya. Saat kita bicara soal waktu, maka kita akan menemukan sebuah pertanyaan sampai kapan kita diberi banyak waktu?
 

Cinta yang dangkal akan melahap apapun dan membuatmu rakus. Sedangkan cinta yang baik, sayangku. Keputusannya ada pada hati nurani, yang menuntun kita untuk tidak akan pernah berfikir sedangkal itu.

 

dessyachieriny@yahoo.com

Ketika Maria Mercedes Membahas Kenaikan Listrik

Awalnya, agak males menanggapi kenaikan listrik, tapi ketika banyak orang yang nulis status bahwa, “Yaelah, lu punya AC 2 tapi listrik naik aja ngeluh, biasa aja kali, ini juga kan buat pemerataan.”

Setiap orang mempunyai hak berpendapat, tapi sebenernya kita harus melihat dari banyak sisi dan aspek terkait ke depannya.

Oke, untuk mengejar sebuah pemerataan saya setuju, tapi apakah harus menaikkan listrik sampai mencekik rakyat di saat gaji orang kantoran aja gak naik-naik? Seandainya gaji naik pun, udah kaya bekicot sawah yang dipaksa naik tangga apartemen lantai 23 sedangkan beban hidup semakin besar. Untuk saya pribadi, saya enggan gegayaan menyetujui hal yang serba mahal terutama kenaikan tarif listrik di sosial media seolah menaikan martabat dan pencitraan diri, sedangkan saya sendiri sadar, kalau belanja kelapa parut pas hari mau mendekati lebaran yang harganya dua kali lipat dari biasanya di warung sayur aja… masih nawar.

-_____-!!??

Saya sempat melihat video pak Jokowi mengenai kenaikan listrik ini, ia juga marah dan menyinggung PLN bahwa di Indonesia terlalu banyak beban-beban yang gak perlu, terlalu banyak brokeri (penghubung antara intermarket dengan trader (kasarnya seperti calo) dan terlalu banyak makelari. Di Indonesia terlalu banyak orang-orang yang ada di tengah, yang seharusnya gak ada. Dengan banyaknya makelar hantu ini seringkali dalam perhitungan jadi meleset yang pada awalnya membutuhkan biaya yang sedikit jadi melambung tinggi kaya bola homerun. Lagi-lagi yang harus digarisbawahi adalah efisiensi.

Mahalnya tarif listrik di tanah air disebabkan karena adanya praktik percaloan saat produsen listrik swasta Independent Power Producer (IPP) yang menjual listrik ke PLN kemudian dijual lagi ke masyarakat.

Negara yang lebih maju dari kita, tarif listriknya saja lebih murah. Dari dulu konsep pemerataan sudah ada, namun hanya sekedar konsep. Nah, di orde sekarang ini lagi digenjot abis-abisan mengenai infrastruktur sebagai bentuk pemerataan pembangunan di daerah-daerah. Point utama supaya pembangunan itu terbentuk adalah dengan adanya listrik di daerah yang awalnya belum masuk pasokan listrik dapat merasakan dan ikut menikmati. Ini gimana mau pemerataan pembangunan dan memberikan subsidi listrik, jika tiang listrik-listrik di daerah saja gak ada. Dengan adanya pemerataan listrik akan terbentuk ruang hidup baru, membentuk kota baru, yang kelak akan menunjang Indonesia ke depan.

Kembali kepada pasal 33 UUD 1945 menyatakan,

”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” (Pasal 33 Ayat 1)

”Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” (Pasal 33 Ayat 2)

”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (Pasal 33 Ayat 3)

“Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional” (Pasal 33 Ayat 4).

Jangankan listrik, air saja mahal, berapa banyak juga yang ngeluh selain mahal, air PAM keluarnya kecil parah kaya kencing tikus. Selain itu banyak cabang produksi yang mencangkup hajat hidup orang banyak dikuasai swasta. Gak usah jauh-jauh, berapa banyak pom bensin 3.4 beli BBM isi 5 liter kalau dihitung paling dapet 4 liter.

Kenapa mahal? Tanya kenapa? Karena bumi, air dan segala isinya banyak dikuasai asing. Jadi rakyat tidak menikmati. Padahal sudah jelas2 awalnya, bumi, air dan segala isinya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat, agar rakyat dapat menikmati. Kata “Menikmati” itu apa? Memakai tanpa harus mencekik leher rakyat dan menguras kantong yang rata-rata penduduknya di akhir bulan cuma diisi lembaran puluhan ribu doank.

Listrik yang mahal akan berpengaruh terhadap semua aspek pembangunan, juga terhadap pertumbuhan industri, akhirnya menjadikan semua lagi-lagi serba mahal, investor asing juga enggan nanem modal di kita.

Saya pernah bertandang ke daerah kepulauan Tanjung Hutan sekitar 2 tahun lalu. Mereka baru merasakan listrik PLTS 3 bulan saat itu dan dijatah. Mereka hanya bisa menggunakan satu bohlam untuk malam hari dan pakai kipas angin hanya satu jam. Siang sama sekali tidak menggunakan listrik. Ditambah tidaknya adanya air bersih, mereka saat itu gotong royong swasembada sendiri mengumpulkan uang hanya untuk biaya ngebor satu titik yang dapat digunakan untuk beberapa rumah yang hidup di sana, agar mereka dapat air bersih yang juga layak untuk diminum.

Kenyataannya kita hanya menguasai secara de jure di atas kertas, de facto dikuasai kapitalis mancanegara dan konglomerat nonpribumi. Semoga di pemerintahan sekarang, ada banyak hal-hal baik ke depannya untuk sebenar-benarnya kemakmuran Rakyat.

Panjang ya? Maaf. Anggep aja Maria Marcedes lagi curhat.

*kemudian nanem pohon kedondong, pohonnya untuk membantu masalah listrik di rumah, buahnya dimakan, bijinya buat garuk tenggorokan.

-____-!!??

 

dessyachieriny@yahoo.com